«

»

Jan 27

Membangun Umat

Khutbah Idul Fitri 1 Syawal 1403 H./1983 M

Oleh:

Prof. Dr. Muhammad Fakri Gaffar, M.Ed.

الحمد للّه الّذى وفقنا لأداء أفضل الطّاعات، ووفقنا على كيفية اكتساب أكمل الشعارات، وهدانا الى قولنا: أعوذ بالله من الشّيطان الرّجيم من كلّ المعاصى والمنكرات. نشر فى أداء كلّ الخيرات والمأمورات.

أشهد أن لا اله الاّ الله  هو عادل حكيم وعليم وخبير يعلم ما يلج فى الأرض وما يخرج منها وما ينزل من السّمآء وما يعرج فيها وهو الرّحيم الغفور.

وأشهد أنّ محمّدا عبده ورسوله الّذى نام وقام وأفطر وصام وجاهد فى الله حقّا الجهاد حتّى طهرت النّفوس من الرّجس والوثنيّة واستنارت بنور الشّريعة الاسلامية.

أوصيكم فيا عباد الله وايّاي بتقو الله فانّها شعار المتّقين. ووصيّة الله للنّاس أجمعين.

أمّا بعد:

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر. الله أكبرولله الحمد

Allah Maha Besar 3X Segala puj hanya mlk-Nya.

Segala puja dan puji hanya kepada Allah dan kepada-Nya pula kita berserah diri.

Kaum Muslimin dan Muslimat yang berbahagia!

Dengan didahului oleh rasa syukur kepada Allah I, pada pagi yang cerah dan gemilang ini kita bersama-sama melakukan ibadan ‘Idul Fitri sebagai suatu kegiatan akhir dari rangkaian kegiatan bulan Ramadhan yang baru saja kita lalui.

Kaum Muslimin dan Muslimat yang berbahagia!

Marilah kita kaji sejenak puasa itu, untuk me-nambah pemahaman kita tentang hal-hal yang esensiil yang kita  temukan di dalamnya.

Islam melihat puasa itu sebagai suatu proses pembinaan kepribadian yang melibatkan seluruh aspek kepribadian kita. Tegasnya tidak hanya fisik yang memperoleh pembinaan tetapi juga iman, kasih sayang, sabar, sikap, toleransi dan sebagainya. Proses pembinaan kepribadian ini dilaksanakan menurut prosedur tertentu yang telah diatur oleh al-Qur’an dan al-Hadits.

Setiap hari selama satu bulan penuh kita di-kondisikan oleh satu suasana pembinaan yang men-cakup hal-hal yang bersifat ubudiyah maupun hal-hal yang bersifat muamalah. Penilaian diri pribadi dan internalisasi merupakan proses yang inheren di dalam keseluruhan kegiatan itu. Hal ini sungguh sangat unik, yang tidak terdapat pada agama lain selain Islam. Karena itu wajarlah apabila umat Islam mempunyai kepri­badian yang khusus sebagai produk dari kegiatan puasa yang khusus itu. Produk dari kegiatan pembinaan ini adalah umat Islam yang memiliki ciri-ciri pribadi seperti taqwa, iman, ihsan, mencegah perbuatan jahat dan menyuruh perbuatan baik, toleransi dan damai. Dengan bekal pribadi yang seperti ini umat Islam harus mampu merenggut kem-bali fitalitas hidup untuk kemudian dipergunakan dalam perjuangan menghadapi liku-liku hidup hari esok.

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر. الله أكبرولله الحمد

Allah Maha Besar

Kepada Allah-lah  kita bersujud  dan  kepada-Nya jua kita mengabdi.

Kalau pada bulan puasa itu kita menjalani proses pembinaan untuk diri kita masing-masing, maka mulai hari ini marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing apakah yang dapat kita perbuat untuk kepentingan umat ini? Jawabannya adalah: marilah kita didik, kita bina dan kita bangun umat ini menjadi umat yang bersatu, umat yang kuat, umat yang mempunyai harga diri dan umat yang taqwa kepada Allah.

Kuat lemahnya suatu bangsa tergantung kepa-da kuat lemahnya mental dan moral bangsa itu. Kalau kita menginginkan bangsa Indonesia ini sebagai bangsa yang besar dan dihormati maka mental dan moral serta pribadi bangsa kita ini haruslah kuat dan tangguh. Kalau kita menginginkan umat Islam Indonesia menjadi umat yang bersatu, umat yang kuat dan umat yang tangguh maka mereka harus memiliki sikap mental yang tangguh, moral yang tinggi, toleransi yang besar, serta iman yang kuat.

Bagaimanakah agar umat ini memiliki ciri-ciri pribadi tersebut? Jawabannya adalah: melalui pen-didikan. Dengan pendidikan kita membangun umat, dengan pendidikan kita membina kepribadian umat seperti yang ditunjukkan oleh Allah. Karena itu Islam memandang pendidikan sebagai sesuatu yang fundamental dan essensial. Di dalam al-Qur’an ter-dapat petunjuk-petunjuk yang bisa dijadikan pegang-an dalam menyelenggarakan usaha pendidikan ini. Konsep-konsep seperti iman, akhlakul karimah ihsan, tafakkur, akal serta ilmu merupakan petunjuk penting bagi kita. Kalau kita kaji keseluruhan petun-juk-petunjuk itu maka pendidikan nilai, sikap dan akhlak merupakan dasar yang harus ditanamkan kepada anak didik sedini mungkin. Di dalam al- Qur’an surat Ali Imron disebutkan:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (Q.S. Ali Imran,3: 102)

Ayat di atas menekankan taqwa kepada Allah, sedangkan dalam surat al-Isra’ ayat 23 dan 24 disebutkan sebagai berikut:

“Allah memerintahkan agar kamu jangan menyembah Tuhan selain Allah, dan agar kamu berbuat baik terhadap ibu bapak. Kalau mereka bersamamu hingga tua, janganlah mengucapkan kata-kata kasar kepada mereka melainkan engkau wajib menghormatinya. Dan rendahkanlah diri terhadap keduanya dengan kasih sayang, dan katakanlah: Wahai Tuhanku kasihanilah mereka sebagaimana mereka mendidikku (dengan mengasihihiku) sejak kecil.” (Q.S. al-Isra’, 17: 23-24)

Ayat di atas menunjukkan akhlakul karimah atau budi pe­kerti yang mulia yang perlu dimiliki oleh anak didik kita. Pekerti yang mulia ini secara khusus oleh Nabi Muhammad r diungkapkan   dalam   sebuah   hadits  yang  berbunyi:

انّما بعثت لأتمّم مكارم الأخلاق

Aku diutus (oleh Allah) untuk menyempurnakan akhlak (manusia).

Pendidikan penalaran dan berfikir logis sangat ditonjolkan di dalam al-Qur’an dengan istilah tafakkur, akal, dan iqra. Dalam surat al-Alaq umpa-manya diungkapkan pentingnya penalaran ini yaitu berbunyi:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan per-antaraan kalam,  Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”

(Q.S. al-’Alaq, 87: 1-5)

Istilah iqra mengandung arti membaca, berfikir, mengkaji, menelaah, menganalisis yang kesemuanya berarti berfikir menurut kaidah-kaidah penalaran. Sedangkan yang menjadi objek pengkajian atau penalaran itu adalah al-khalaq atau segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah di alam ini. Ini dipertegas lagi dengan sabda Nabi di bawah ini:

تفكّروا فى خلق الله ولا تتفكّروا فى ذاته

“Tafakkurilah ciptaan Allah dan jangan mentafakkuri dzat Allah.

Allah menganjurkan manusia agar mempelajari, memahami alam semesta ini, bukan hanya untuk menyadarkan manusia akan kebesaran Allah, tapi juga untuk kepentingan Ilmu Pengetahuan yang berguna bagi manusia. Allah berfirman pula pada Surat al-Ghasyiyah ayat 17-20 sebagai berikut:

“Apakah mereka tidak melihat bagaimana unta diciptakan, bagaimana langit menjulang tinggi, dan bagaimana gunung tegak berdiri serta bagaimana bumi terhampar luas?” (Q.S. al-Ghasyiyah, 88, 17-20)

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر. الله أكبرولله الحمد

Allahu Akbar.

Apakah produk dari pendidikan menurut kon-sep-konsep Islam ini? Produk yang diciptakan adalah manusia terdidik atau disebut dengan istilah orang berilmu atau ulama. Ulama menurut Islam adalah orang berilmu yang dapat menerapkan ilmunya bagi masyarakat untuk kepentingan masyarakat. Karena itu kedudukan ulama sangat penting di dalam Islam seperti tercantum di dalam surat al-Fathir berikut:

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Q.S. al-Fathir, 35:28)

Nabi Muhammad  SAW  mengungkapkan posisi ulama itu sebagai pewaris nabi-nabi:

العلمآء ورثة الأنبياء

“Ulama itu adalah pewaris para Nabi.

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر. الله أكبرولله الحمد

Allah Maha Besar, kepada-Nya kita menyembah, dan kepada-Nya pula kita berbakti.

Kaum Muslimin dan Muslimat yang berbahagia!

Kalau tadi kita membicarakan bahwa untuk membangun ummat perlu pendidikan, dan hal itu sudah kita ungkapkan dengan beberapa konsep-konsep dasar menurut al-Qur’an, maka sekarang marilah kita tinjau apa yang seharusnya dapat dikerjakan oleh manusia terdidik yang merupakan produk pendidikan ini dalam kaitannya dengan membangun umat. Di dalam surat al Qashash ayat 77 dijelaskan:

“Dan  usahakanlah dengan karunia yang diberikan Allah kepada engkau kebahagiaan aklrirat, tetapi jangan engkau lupakan nasibmu di dunia ini dan buatlah kebaikan sebagaimana Allah berbuat baik kepada kamu. Dan janganlah engkau membuat bencana di muka bumi ini. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat bencana.” (Q.S. al-Qashash, 28: 77)

Ayat di atas mengisyaratkan kepada kita bahwa memang perlu keseimbangan antara kehidupan di akhirat dan kehidupan di dunia. Untuk memperoleh kehidupan yang diridoi Allah baik di dunia maupun di akhirat kita diperintahkan untuk berbuat baik, untuk beramal dan untuk berkontribusi kepada masyarakat. Kita diperintahkan untuk tidak membuat bencana untuk tidak menyukarkan atau menyusahkan orang lain.

Surat al-Hajj ayat 78 berbunyi:

“Dan berjuanglah kamu di jalan Allah dengan per-juangan yang sungguh-sungguh.” (Q.S. al-Hajj, 22: 78)

Berjuang atau jihad di sini diartikan berusaha keras dengan penuh keyakinan untuk berbuat baik, untuk menolong sesama umat untuk memaslahatkan umat sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang ada di dalam al-Qur’an. Untuk apakah perjuangan itu? Perjuangan itu adalah semata-mata untuk mencip-takan masyarakat yang damai, masyarakat yang rukun, masyarakat yang bersatu dengan rahmat dan karunia Allah.

“Bangsa yang aman, makmur mendapat keampunan dari Allah.” (Q.S. Saba, 34: 15)

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر. الله أكبرولله الحمد

Kaum Muslimin dan Muslimat yang berbahagia!

Usaha kita di dalam membangun umat merupa-kan tanggung jawab yang tidak ringan merupakan tugas yang amat berat yang harus dilaksanakan oleh setiap individu terutama yang termasuk kaum ter-didik, cendekiawan, pemimpin, para orang tua, dan para pemuda.

Jangkauan usaha kita mencakup seluruh aspek kehidupan masyarakat, karena memang kehidupan itu mencakup berbagai aspek kebutuhan baik yang bersifat fisik, materil maupun yang bersifat psiko-logis, spiritual. Allah tidak membatasi usaha manusia di dalam menaklukan alam untuk memenuhi kebu-tuhannya asalkan tidak bertentangan dengan petu-njuk-petunjuk Allah, asalkan mempunyai kemam-puan untuk mielaksanakan dan mewujudkan usaha itu. Islam memberikan petunjuk yang seluas-luasnya terhadap keinginan, cita-cita dan harapan manusia di dalam menjalani hidupnya. Hal ini dicantumkan di dalam surat ar-Rahman ayat 33:

“Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, Maka tembuslah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.” (Q.S. al-Rahman,55: 33)

Ayat di atas mengisyaratkan betapa luasnya kesempatan yang diberikan oleh Allah tapi betapa juga terbatasnya kemampuan manusia untuk mem-peroleh kesempatan itu. Umat Islam, dengan me-nyadari segala keterbatasan dan kelemahannya, perlu berusaha terus karena hanya diri kitalah yang mampu menentukan nasib kita. Karena itu pan-dangan jauh ke depan dan cita-cita yang tinggi tetap diperlukan dalam usaha memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat dalam usaha membangun umat mencapai karunia dan keridoan serta pengampunan Allah Yang Maha Kuasa.

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر. الله أكبرولله الحمد

Allah Maha Besar, kepada Allah-lah kita memanjatkan do’a dan hanyalah kepada-Nya kita berserah diri.

Ya Allah ya Tuhan kami, di pagi yang cerah dan gemilang ini perkenankanlah kami memohon ke-pada-Mu ya Allah.

Ampunilah dosa kami, dosa keluarga kami, dosa anak cucu kami dan dosa ibu bapak kami.

Kami mengerti dan kami menyadari bahwa tugas kami sebagai pendidik, sebagai pemimpin, sebagai pemuda dan sebagai orang tua adalah me-negakkan kebenaran, mewujudkan perintah-Mu dengan sebaik-baiknya.

Berilah kami petunjuk, berilah kami bimbingan agar kami dapat melaksanakan perintah-Mu ya Allah dalam mendidik diri kami, bangsa kami dan umat kami.

Apabila kami lalai berilah peringatan wahai Tuhan, apabila kami khilaf berilah teguran wahai Tuhan, apabila kami putus asa berilah kami kegairahan untuk bangun kembali, untuk berjuang kembali di jalan-Mu ya Tuhan.

Berilah keampunan kepada pemimpin-pemim-pin kami, berilah per-indungan kepada rakyat kami, berilah kekuatan kepada putra dan putri kami agar mereka menjadi manusia yang berguna untuk me-wujudkan segala petunjuk dan perintahMu.

Ya Allah Tuhan kami, dengarkanlah do’a kami, kabulkanlah keinginan kami. Amin ya Robbal ‘alamin.

“Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian.” (Q.S. al-Baqarah,2: 126)


“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau.” (Q.S al-Baqarah,2: 128)

“Ya Tuhanku, jadikanlah Aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan kami, perkenankanlah doa kami.” (Q.S. Ibrahim,14:40)

ربّنا تقبل منّا صلاتنا وصيامنا وجميع عبادتنا برحمتك ياأرحم الّرّاحمين.

سبحان ربّك ربّ العزّة عمّا يصفون وسلام على المرسلين والحمد لله ربّ العالمين.

1 ping

  1. KHUTBAH DAN ILMU KEISLAMAN « saifulunmuha

    [...] Membangun Umat [...]

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>