«

»

Jun 28

Anak Yatim Dalam Perspektif Islam

Siapakah anak yatim itu ? Yang dimaksud dengan anak yatim adalah anak yang belum dewasa dan tidak mempunyai bapak lagi karena telah meninggal dunia (man mata abuhu wa huwa shaghir). Batasan umur yatim adalah sampai baligh, sesuai dengan sabda Rasulullah SAW: “ Tidak ada keyatiman lagi setelah mimpi (H.R. Abu Daud). Kedewasaan seorang anak, di samping diukur dengan kemampuannya secara fisik untuk kawin (biasanya ditandai dengan bermimpi dengan mengeluarkan air mani bagi anak laki-laki dan datangnya haid yang pertama kali bagi wanita) juga diukur dengan faktor kecerdasan, seperti dinyatakan oleh Allah SWT dalam Q.S. An-Nisa 4: 6 yang artinya kurang lebih demikian: “ Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapat mereka telah cerdas maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya”

Dari ayat tersebut dapat dikatakan bahwa faktor kecerdasan sangat penting dipertimbangkan supaya anak yatim sebelum dilepas untuk hidup secara mandiri terlebih dahulu hendaklah diyakini bahwa perkembangan fisiknya telah seimbang dan sebanding dengan perkembangan kecerdasannya.

Kedudukan Anak Yatim dalam Islam

Anak yatim mempunyai tempat istimewa dalam Islam. Tidak kurang dua puluh tiga kali Al-Qur’an menyebutnya dalam berbagai konteks ( 8 kali dalam bentuk mufrad, 1 kali mustsanna dan 14 kali daam bentuk jama’). Ayat-ayat tersebut memerintahkan kepada kaum Muslimin secara kolektif, dan kepada karib kerabat secara khusus, untuk menyantuni, membela dan melindungi anak yatim, serta melarang dan mencela orang-orang yang menyia-nyiakan, bersikap kasar atau menzalimi mereka. Bahkan Allah SWT menyatakan orang-orang yang menyia-nyiakan anak yatim adalah pendusta agama, hal ini diungkapkan dalam Al-Qur’an yang artinya :“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama”, Itulah orang yang menghardik anak yatim” (Q.S. Al-Ma’un 107:1-2).

Secara umum dapat dikatakan bahwa anak yatim dalam Islam berada pada posisi istimewa dan terhormat. Hal itu, disebabkan karena pada diri anak yatim terdapat beberapa kelemahan dan kekurangan yang memerlukan pihak lain untuk membantu dan memeliharanya. Di samping itu, melalui keadaan yatim yang demikian, ajaran Islam menentukan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh umatnya terhadap anak yatim yang menjadi tolak ukur dari manifestasi imannya kepada Allah SWT.

Anak yatim harus disantuni, dikasihi, dihormati, dan diakui eksistensinya secara khusus. Tidak boleh diperlakukan sewenang-wenang, baik terhadap diri maupun hartanya. Tidak boleh disia-siakan karena pada diri anak yatim terdapat nilai tambah yang menyebabkan hubungan sosial antara dia dengan manusia lainnya terikat tidak disebabkan oleh hubungan keturunan tetapi disambung dan dijalin dengan aspek aqidah yang telah digariskan oleh Al-Qur’an.

Menyantuni Anak Yatim Yang Miskin

Yang pertama jadi perhatian Al-Qur’an adalah anak-anak yatim yang miskin. Mereka sangat memerlukan uluran tangan kaum Muslimin umumnya, dan karib kerabat khususnya untuk membiayai kehidupan mereka, terutama untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. Untuk itu Allah SWT memerintahkan kepada kita untuk berbuat ihsan kepada mereka. Allah berfirman yang artinya: ”Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim. Orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga banggakan diri (Q.S. An-Nisa’ 4:16).

Anak-anak yatim yang miskin inilah yang paling rentang mendapatkan perlakuan yang tidak ramah dan sewenang-wenang dari masyarakat. Oleh Allah menyatakan. “Adapun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang” (Q.S.Adh-Dhuha 93:9).

Bentuk-bentuk Penyantunan Anak Yatim

Paling kurang ada tiga bentuk penyantunan terhadap anak yatim: (1) memberikannya tetap di bawah asuhan ibunya dengan memberikan bantuan biaya hidup dan pendidikan secukupnya. Dengan tetap berada dekat ibunya, anak yatim tetap mendapatkan kasih sayang orang tua yang sangat dia perlukan sesuai dengan perkembangan jiwanya. Cara ini hanya dapat dilakukan apabila sang ibu dinilai sanggup mendidik dan lingkungan rumah tangganya kondusif untuk itu. Kalau tidak, dapat dipilih alternatif ke (2) anak yatim diasuh dan didik di rumah keluarga yang menyantuninya. Inipun dengan catatan bila keluarga pengasuhnya mampu dan lingkungan rumah tangga kondusif untuk menambah anggota baru. Bila tidak, bisa dipilih alternatif ke (3) anak yatim diasuh dipanti asuhan yang dikelola oleh sebuah lembaga atau yayasan.

Supaya penyantunan anak yatim lewat panti asuhan dapat berhasil maka para pengelola hendaknya dapat memperhatikan dengan baik aspek-aspek manajemen, pelayanan kesehatan, pendidikan dan kepemimpinan. Sehingga apabila suatu panti asuhan dikelola dengan baik dan terpadu tentu akan dapat meghasilkan anak-anak yatim yang berkualitas dan diridhai oleh Allah SWT.

Khusus untuk menghadapi Ramadhan dan ‘Idul Fithri, kepada kaum Muslimin diserukan untuk tidak lupa menyumbangkan sebagian hartanya untuk anak-anak yatim sehingga mereka juga dapat bergembira merayakan Hari Raya sebagaimana anak-anak yang masih mempunyai kedua orang tua.

Sumber :

Hikmah, A.  (2011). Cakrawala Al-Qur’an, SM, 2003.

Oleh : Drs. Muh. Tawil, M.S., M.Pd*)

*) Mahasiswa Program Pascasarjana S3 Pendidikan IPA Universitas Pendidikan Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>