Oct 08

Antusias dan Tawakkal Menyongsong

Hari Ahad, tanggal 2 Oktober 2016 Mesehi, kita memasuki tahun baru 1 Muharram 1438 Hijriyah dan meninggalkan tahun 1437 Hijriyah, dengan berbagai perjalanan hidup yang telah kita tempuh.

Sikap kita yang paling bijak dan benar adalah senantiasa melakukan koreksi atau evaluasi secara mendalam, apa saja kekurangan yang harus diperbaiki pada tahun 1438 H, dan mengoptimalkan capaian kebaikan yang telah kita lakukan. Sesuai firmah Allah SWT:
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang ia perbuat, untuk hari esok (QS. Al Hasr, 17).

Secara jujur harus diakui, terkadang kita amat sulit untuk melakukan evaluasi diri, bercermin diri, merefleksi diri, atas apa yang telah kita lakukan pada tahun yang lalu, karena dalam diri masih bercokol sikap sombong, angkuh, congkak, dan merasa benar sendiri. Padahal, pada hakekatnya, sebagai manusia, kita tidak akan pernah lepas dari berbagai sifat dasar manusia yakni adanya kekurangan, kealpaan, kekhilafan, dan ketidaksempurnaan sikap dan perbuatan lainnya di muka bumi ini.

Karena itu, orang yang enggan untuk melakukan perenungan diri, evaluasi diri, atau refleksi diri, atas apa yang dilakukan pada masa-masa lalu, sesungguhnya bertolak belakang dengan hakekat dan kesejatian manusia. Hanya orang-orang yang sombong, angkuh, dan congkak saja, yang tidak pernah mau untuk memperbaiki dan berproses untuk melakukan penyempurnaan sebagai hamba Allah SWT. Pantaslah kalau Allah SWT, sangat membenci orang-orang sombong dan membangga-banggakan dirinya.
“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan dirinya”.

Capaian yang telah kita peroleh pada tahun-tahun lalu, terutama yang kita pandang baik atau maslahat, menurut perspektif kita dan lebih-lebih dalam pandangan Allah SWT, merupakan modal dasar yang harus terus menerus kita optimalkan kemaslahatannya, untuk diri kita, keluarga kita, masyarakat, serta bangsa dan negara kita.

Sementara itu, capaian yang belum maksimal, dalam pandangan kita, lebih-lebih dalam pandangan Allah SWT, hendaknya kita sikapi dengan bijak dan dewasa, sesuai dengan rambu-rambu yang telah ditunjukkan Allah SWT dalam Al Qur’an yakni tidak berputus asa dari Rahmat Allah SWT dalam berikhtiar untuk mewujudkan berbagai keinginan atau kehendak kita dalam kehidupan di muka bumi ini. Allah SWT berfirman:
Janganlah kamu berputus asa dari Rahmat Allah”.

Pesan moral yang terkandung dalam firman Allah SWT tersebut sangatlah jelas dan mendalam, yakni kita sebagai manusia, yang diberikan berbagai potensi kelebihan oleh Allah SWT, tidak boleh berputus asa, cepat menyerah, lemah kehendak, lemah keinginan, karena ini justru akan menempatkan posisi manusia sebagai golongan orang-orang yang lalai, orang-orang yang merugi, baik dalam kehidupan di dunia, dan lebih-lebih di akhirat kelak. Sudah barang tentu, kita tidak ingin termasuk orang-orang yang lalai dan merugi dalam menjalani kehidupan di dunia ini.

Rasulullah SAW, sangat mendorong kita sebagai umatnya untuk senantiasa memiliki tekad dan keinginan yang kuat dalam rangka meraih kebaikan dan ridha Allah SWT., sebagaimana diungkapkan Rasulullah SAW dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah:
“Antusiaslah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan mohon bantuan kepada Allah serta jangan bersikap lemah, dan apabila engkau ditimpa sesuatu, maka janganlah berkata: Kalau saja aku berbuat demikian tentu akan menjadi demikian dan demikian, akan tetapi ucapkanlah takdir Allah dan apa yang Dia kehendaki maka akan Dia lakukan. Sebab kata “seandainya” itu akan membuka amalan setan”.

Jika mencermati Sabda Rasulullah SAW tersebut, dalam pandangan saya, setidaknya terkandung empat nilai esensial yang harus menjadi panduan moral dan orientasi kehidupan kita, yakni (1) antusias atau bersemangat dalam bekerja atau beraktifitas, (2) keyakinan akan pertolongan Allah SWT, (3) hindari sikap lemah, (4) hindari berandai-andai yang akan memberikan peluang untuk masuk perangkap setan.

Saya berkeyakinan, dengan mengejawantahkan keempat nilai esensial tersebut, kita akan memperoleh kemanfaatan atau kemaslahan dalam dimensi yang luas, tidak hanya bagi diri priabadi, melainkan bagi keluarga, dan masyarakat luas.

Menjalani kehidupan dengan spirit keikhlasan dan keridhaan atas apa yang telah ditakdirkan Allah, terlebih dalam konteks momentum tahun baru 1 Muharram 1438 Hijriyah, merupakan suatu keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Mengapa demikian? Hanya dengan keikhlasan dan keridhaan atas takdir yang telah Allah berikan kepada kita, yang dibarengi dengan ikhtiar yang kuat, maka kita akan menjadi orang antuasis dalam mengarungi kehidupan masa depan yang lebih berat dan lebih kompleks tantangannya.

Ibnul Qayyim Rahimahullah dalam Madarij Ash-Shalihin, juz 2 hlm. 202, pernah berkata, “Barangsiapa yang memenuhi hatinya dengan ridha terhadap takdir, maka Allah akan memenuhi dadanya dengan Kecukupan, keamanan, dan qona’ah, dan Dia akan memusatkan hatinya untuk mencinta-Nya, kembali dan bertawakkal kepada-Nya. Namun, barangsiapa yang bagian dari ridha tersebut luput darinya, maka hatinya akan dipenuhi dengan kebalikannya dan dia tersibukkan dengan hal yang dapat menjauhkannya dari kebahagiaan dan keberuntungannya”.

Nasehat Ibnul Qayyim di atas, pada intinya menekankan sikap dan ikhlas dan tawakkal kepada Allah SWT untuk meraih kebahagiaan dan keberuntungan dalam naungan ridha Allah SWT.

Ijinkah saya untuk menyampaikan peringatan Allah SWT kepada kita sebagai hamba-Nya agar peka terhadap waktu, peka terhadap perubahan, peka terhadap jaman, yang kesemuanya itu diorientasikan agar kita menjadi hamba-Nya yang senantiasa mengingat-Nya, kapanpun, dimanapun, dan dalam situasi seperti apapun. Allah menegur kepada hamba-hamba-Nya sebagai tersurat dalam Al Qur’an, Surah Al Hadid: 16:
Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan kepada mereka…”

Mari kita resapi secara mendalam firman Allah SWT tersebut, dengan mengadakan perenungan secara komprehensif terhadap pikiran, sikap, dan perilaku kita selama ini, dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan reflektif: apakah diri kita sudah menjadi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam memanfaatkan waktu kehidupan yang Allah berikan itu dengan baik, yakni dalam rangka mengingat Allah SWT dan mematuhi kebenaran hakiki yang diwahyukan Allah SWT? Atau apakah kita belum bersungguh-sungguh dalam memanfaatkan waktu yang Allah berikan kepada kita dengan sebanyak mungkin mengingat Allah dan mematuhi kebenaran hakiki yang diwahyukan Allah.

Mari kita jujur menjawab atas pertanyaan reflektif tersebut, karena hanya diri kita dan Allah-lah yang tahu persis bagi isi hati dan pikiran kita dalam merespon refleksi tersebut.

Kalaupun kita menjawab “sudah” , tentu saja, hal ini tidak akan lepas dari kekuasaan dan ke-Maha Rahman dan Rahim-an Allah kepada kita dalam membimbing dan mempedomani kita untuk menjalani waktu-waktu kehidupan di dunia ini.

Kalau kita menjawab “belum”, tentu saja, hal itu karena ketidakmampuan kita dalam mengotimalisasikan segala potensi yang diberikan Allah kepada kita sebagai manusia. Seringkali, kita berdalih dengan seribu macam dalih, karena kesibukan kita, karena jabatan kita, karena kelebihan kita, karena tidak ada waktu, dan sejumlah alasan lainnya, yang justeru sesungguhnya menunjuk kepada Kelemahan diri yang dimiliki manusia.

Potensi pengetahuan kita dalam menghimpun sejumlah pengalaman-pengalaman praksis pada tahun lalu, tentu akan semakin signifikan dan bermanfaat dalam menyongsong tahun 1438 H, jika hal tersebut diorientasikan dalam konteks pemahaman terhadap ayat-ayat atau tanda-tanda kekuasaan Allah SWT.

Potensi sikap kita dalam merespon sejumlah pengalaman masa lalu, pun akan semakin mendewasakan sikap kita di tahun yang akan datang, manakala sikap-sikap kita tersebut merupakan refleksi atas nilai-nilai ikhlas dan tawakkal.

Demikian juga dengan potensi perilaku kita dalam mengejawantahkan nilai-nilai kebenaran hakiki dari Allah SWT, akan semakin matang membentuk sosok pribadi muslim yang mumpuni atau kaaffah dalam pandangan Allah SWT.

Akhirnya, dengan penuh kesadaran akan segala keterbatasan yang kita miliki sebagai manusia yang lemah, marilah kita senantiasa memohon pertolongan kepada Allah SWT yang Kuasa dan Maha Kaya, agar kita selalu diberikan kekuatan untuk menjadi pribadi muslim yang antuasias dalam mencapai kemasalahan hidup di dunia ini, dan tawakkal dalam menghadapi berbagai problematika kehidupan yang menghadang kita terlebih dalam memasuki tahun 1438 Hijriyah.

 

Oleh, Syaifullah Syam, M.Si