«

»

Jan 24

Benteng Keimanan

Ada seorang pakar, seorang ulama dari Smarkhan yang menyatakan: “Perumpamaan iman itu bagaikan sebuah negeri yang dibentengi oleh lima buah benteng, karena itu selama benteng-benteng ini tetap kokoh/kuat maka iman masih tetap jaya”. Apakah yang dimaksud dengan benteng-benteng tersebut? Yang sangat dekat kepada iman itu adalah benteng yang seharusnya paling kuat adalah keyakinan, akidah. Oleh sebab itu, mari kita melakukan evaluasi terhadap akidah kita. Apakah akidah kita masih terkontaminasi dengan kepercayaan, keyakinan terhadap benda-benda yang memiliki kekuatan mistis dan magis yang bisa memberikan kemanfaatan dan menolak kemadaratan? Hal ini perlu dipertanyakan, karena negeri kita mantan negeri Hindu bahkan negeri animisme dan sisa-sisanya masih banyak dipertahankan.

Kepercayaan terhadap kekuatan benda itu sangat disambut oleh iblis. Anak buah mereka biasanya bermukim pada benda itu/ tinggal disitu, sehingga benda yang dianggap memiliki tuah yang tinggi itu harganya bukan kepalang. Orang sunda mengatakan mugusti tidak apa tapi migusti itu yang dilarang. Menyimpan hanya sekedar kenang-kenangan tidak apa-apa, tapi kalau diyakini dia bisa menarik manfaat dan menolak madarat, ini yang mengganggu akidah. Ada keris yang bisa berdiri atau benda pusaka yang lain dari berbagai negeri kita, misalnya rencong, kujang, badik dan lain sebagainya juga termasuk bebatuan bahkan tulisan-tulisan yang dianggap bisa memberikan manfaat. Tulisan-tulisan yang disebut aofak yang ditulis oleh tinta jafaron yang kayanya akan begini dan begitu dengan niat tabarruk.

Apakah betul kalimat yang diucapkan oleh lidah akan sesuai dengan hati. Lidah boleh mengatakan tabarruk tetapi hati tawakal, ini yang berbahaya. Karena beda antara tabaruk dengan tawakal, kepada badan Rasulullah boleh kita bertabarruk dengan rambutnya. Di zaman Rasulullah saw ketika beliau bertahalul, bercukur rambut, para sahabat sibuk mengumpulkan rambut-rambut rasulullah dan rasulullah tidak melarang. Karena Rasulullah telah menerangkan: setiap lembar daripada tubuhku adalah mengandung keberkahan, tapi itu berkah bukan mistis dan magis. Begitu Rasulullah meninggal, ketika Abu Bakar As Siddiq menjadi khalifah, beliau bercukur rambut dan berjatuhan rambutnya tak seorangpun yang mau melihatnya. Jadi pada diri Rasulullah ada berkah dan banyak orang-orang tabarruk terhadap benda-benda yang katanya dari ulama, tasbihnya, tulisannya, aufaknya dan sebagainya tetapi bukan tabarruk melainkan tawakal. Sedangkan tawakal itu hanya kepada Allah.

Kalau kita masih ada, menyimpan benda-benda yang diyakini memberikan kekuatan membantu kehidupan kita, berarti di samping Allah ada yang ikut mengurus nasib ini, namanya syirik rububiyah. Apakah ada di antara kita yang suka melepun-lepun di kuburan dengan maksud memohon kepada kuburan? Ini lebih besar bahayanya. Banyak orang yang berdoa kepada Allah di atas kuburan seseorang yang dianggap sakti dengan alasan supaya proses ijabah doa akan cepat dikabulkan berkat sohibul makobir, yang keluar dari lidah tawasul, tetapi bukan seperti itu tawasulnya, itu membuat perantaraan. Sama dengan para bangsawan ataupun orang-orang Arab jahiliyyah dahulu ketika ditanya oleh Rasulullah “Kenapa kalian menyembah sesuatu yang tidak bisa berbicara, tidak bisa mendengar? Mereka mengatakan : Kami menyembah mereka itu agar mendekatkan diri kami dengan Allah melalui mereka”. Allah menyatakan “iyyaka na’budu waiyaka nasta’in” yang artinya “Hanya Engkaulah (Ya Allah) Yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan”. Ini jahiliyyah modern, ini namanya syirik uluhiyah yang artinya meminta-minta atau tidak meminta-minta tetapi menjadikan perantara kepada seseorang ataupun yang sudah tidak ada atau telah tiada. Keyakinan yang bersih, bertaufik, lurus pada Allah SWT, inilah yang akan mengantarkan diterimanya seluruh pengabdian seorang mukmin kepadaNya.

Kedua, yang membentengi iman kita adalah keikhlasan. Artinya niat yang ikhlas. Di dalam surat Al Bayyinah. Ada tiga unsur yang dikemukakan oleh Allah sebagai modal beribadah yang akan diterima. “Tiadalah kami memerintahkan kepada mereka kecuali hanya untuk beribadah kepadaKu dengan ikhlas, sesuai dengan aturan agama”. Jadi unsur ini kita sebut sebagai ikhlas, sowab, hanif. Ikhlas murni niatnya karena Allah, sowab sesuai dengan contoh yang diberikan Rasulullah dan Hanif kecenderungannya hanya kepada satu yaitu ridho Allah. Mari kita kontrol, evaluasi tentang niat-niat kita keseharian dalam ibadah apapun, amal apapun termasuk kita mengajar, bekerja dan sebagainya, apakah sudah seperti itu gambarannya?

Ketiga, benteng yang akan mempertahankan kerajaan iman kita adalah kefardhuan. Mari kita soroti kefardhuan yang kita lakukan dalam keseharian satu tahun ini, adakah kefardhuan itu telah unggul lebih dari kefardhuan yang berkaitan dengan urusan duniawi walaupun itu penting. Seperti shalat fardhu, puasa fardhu, haji yang fardhu sifatnya, mengurus anak yatim, mengurus anak dan istri, menyekolahkan mereka, itulah kefardhuan dan mencari ilmu agama itu fardhu ain bukan fardhu kifayah. Yang fardhu kifayah itu mencari ilmu pengetahuan umum, artinya tidak setiap orang mukmin harus ngerti astronomi, fisiologi, biologi, fisika. Tapi setiap mukmin harus mengerti agama (fardhu ain), bila tidak ada kesempatan seolah-olah kita tidak menyempatkan diri untuk menambah pengetahuan keagamaan ini karena terlalu sibuk dengan urusan duniawi, itu berarti kita telah melupakan kehidupan yang hakiki yaitu akhirat. Oleh sebab itu, targetkan akhirat itu adalah kehidupan sebenarnya bagi kita.

Apakah kefardhuan shalat itu tetap kita lakukan dengan berjamaah atau tidak? Andaikan berjamaah, berarti kita terbebas dari sikap orang-orang munafik dan fasik. Sebab orang-orang yang tidak melakukan shalat berjamaah, walaupun shalat, itu termasuk golongan orang-orang munafik amali. Nabi pernah menyatakan “sesungguhnya shalat berjamaah yang paling berat untuk orang munafik adalah shalat berjamaah subuh dan isya”. Pernah dikuiskan kepada para sahabat, siapa yang sanggup shalat semalam suntuk? Tidak ada yang angkat tangan. Kalau kalian tidak sanggup tolong pelihara shalat berjamaah subuh, karena itu nilainya sama dengan shalat semalam suntuk. Siapa yang sanggup shalat setengah malam suntuk? Masih tidak ada yang sanggup. Andaikan kalian tidak mampu untuk shalat setengah malam, pelihara shalat berjamaah isya karena nilainya sama dengan shalat setengah malam suntuk. ini juga untuk bahan evaluasi kita, apakah kita termasuk munafik itu? tergantung kepada dua jenis shalat berjamaah kedua ini. Andai kata masih berat, mari kita perbaiki mudah-mudahan tidak terulang lagi. Begitu juga dengan ilmu agama, orang yang menyepelekan ini termasuk orang yang akan menyesal nanti di akhirat. Orang yang paling menyesal adalah mereka yang banyak kesempatan untuk mencari ilmu pengetahuan agama ketika hidup di dunia tetapi tidak digunakan.

Benteng yang berikutnya adalah kesunnahan. Sunnah-sunnah ini benteng yang keempat yang akan melengkapi kefardhuan kita. Apakah itu baca Quran dan dzikir, silaturahim, berdoa kepada Allah SWT. Jadi begitu kita selesai shalat fardhu, apabila ada shalat ba’diyah jangan ditinggalkan, untuk menambali shalat fardhu yang banyak sekali lupanya kepada Allah. Begitu juga shalat yang paling istimewa setelah fardhu adalah tahajud dan shalat dhuha. Mudah-mudahan akhlak yang kita akan tampilkan kedepan adalah akhlakul karimah.

Oleh, Dr. K. H. Bakhrul Hayat, M.Ag.