Feb 01

Bulan Rabiul Awwal Penuh Makna Keteladanan

Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagi kamu, yaitu bagi orang-orang yang mengharapkan menemui Allah dan Hari Akhir dan mengingat Allah sebanyak-banyaknya” (QS Al Ahzab 33 : 21)

 

Dalam situasi rusaknya akhlak, dekadensi  moral, ketagihan game 7 bocah bobol rumah,  hancurnya tatanan peradaban, hilangnya perasaan damai, timbulnya kecurigaan dan ketidak percayaan yang berlebihan, penindasan yang kuat  kepada yang lemah, meluasnya pembunuhan karakter, berantakan tata nilai kehidupan, merajalelanya korupsi, kolusi dan nepotisme, hilangnya rasa hormat kepada sesama, musibah banjir, longsor dimana-mana, putusnya hubungan silaturahmi antar sesama, rakus dalam berbagai peluang, kesempatan dan jabatan, terjerumus kepada lubang kehinaan, lalainya ketaatan dan susahnya melahirkan kekhusyu’an dalam beribadah,  dsb.

Hal ini terjadi diakibatkan rusaknya sistem pendidikan (pandangan masyarakat Australia kelahiran Indonesia). Pendidikan lebih menekankan kearah kognisi semata. Guru lebih khawatir anak didik mereka tidak jujur, tidak santun, kasar, menyontek, tidak empati, tidak berakhlak, ketimbang mereka-mereka tidak bisa membaca menulis dan berhitung. Sekolah lebih khawatir bila anak didiknya tidak mendapatkan nilai UN yang tinggi, dari pada mementingkan kejujuran, kedisiplinan, bertanggung jawab dsb.  Hal  ini bisa ditafakuri  dari berbagai kegiatan pendidikan. Orang tua sangat ingin anaknya pintar terkenal, walaupun mengabaikan prilaku akhlak yang mulia, mengikuti bimbingan belajar setiap saat, tanpa memperhatikan ketaatannya beribadah kepada Allah, membaca Al Quran, kumpul dengan orang sholihin dsb.

Ditengah-tengah kegalauan seperti ini, perlu adanya pemikiran yang lebih mendalam, kesadaran  yang tulus, ikhtiar semaksimal mungkin, memanjatkan doa kepada Allah swt dengan penuh harap, sabar, tawakkal dan berserah diri sepenuhnya kepada Allah Swt, untuk mendapatkan jalan yang lebih baik, maslahat, manfaat, keselamatan hidup di dunia akhirat.

Hadirnya Bulan Rabiul Awwal 1434 H/ 2013 M,  Bulan Kelahiran Nabi Muhammad Saw, sebagai  solusi permasalahan moral bangsa yang terus memburuk. Kembali kepada Allah dan Rasul-Nya dengan menggali nilai-nilai ajaran Allah dan Rasul-Nya, memahami dengan mendalam,dilanjutkan dengan mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari dengan ikhlas. “Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisaa: 59)

Bulan Rabiul Awwal adalah bulan lahirnya Pribadi Uswatun Hasanah (contoh suri tauladan yang baik) atau istilah sekarang karakter baik dan kuat bagi umat manusia dimana pun berada. Bagi umat Islam yang beriman kepada Allah swt, tidak akan sulit untuk mencari figur, idola, yang dijadikan anutan contoh, suri teladan, atau uswatun hasanah dalam hidup selamanya. Hal ini sebagaimana dijelaskan Allah dalam Surat ke 33 Al Ahzab: 21. Dijadikannya pribadi Muhammad saw sebagai insan model dalam kehidupan sehari-hari di alam dunia ini, agar umat yang mengikutinya dan beriman kepadanya dapat menjadikannya hidupnya lebih baik dan lebih percaya diri. Mencontoh pada umumnya dapat dilakukan oleh setiap orang, bahkan kalau sudah tertanam dalam jiwa, maka akan mudah untuk mengikutinya  tanpa dipikirkan terlebih dahulu.

Ada pertanyaan yang paling mendasar, apakah kita sudah mengikuti contoh keteladanan Nabi Muhammad saw, silakan dijawab dengan renungan dan perasaan yang paling mendalam, dan tentunya dengan penuh kesadaran, juga keimanan. Pertanyaan selanjutnya bisakah kita meneladani Nabi Muhammad saw? Jawabannya tentu bisa. Namun bila kembali kepada ayat di atas, terungkap bahwa yang dapat mengikuti keteladanan Nabi Muhammad itu adalah mereka yang dapat memenuhi ketentuan sebagai berikut, yaitu: (1) liman kana yarjulloh, (2) walyaumal akhir, dan (3) wadzakarolloha katsiro.

Jadi orang yang dapat mengikuti keteladanan Nabi Muhammad saw adalah Pertama hanyalah orang-orang  yang dalam melaksanakan seluruh kegiatan sehari-hari selalu berharap kepada ridha Allah. Misalnya melaksanakan tugas sebagai pegawai atau karyawan, sebagai pedagang, petani dan sebagainya hendaklah dilandasi dengan mengharapkan ridha Allah. Niatkan segala aktivitas di rumah, di luar rumah, di masjid, di pasar, di kantor, di kampus  atau dimana saja berada, semata-mata hanya mengharapkan kepadaNya. Insyaalloh dapat mengikuti keteladanan Nabi Muhammad saw.

Kedua,dan yakin akan kedatangan hari qiyamah. Menurut Tafsir al Maraghi (Juz 21, halaman 277) menjelaskan hendaklah merasa takut akan adzab Alloh, dengan menyiapkan amal saleh yang telah dilakukannya. sedangkan menurut Sauri (2012:163) berupaya mencintai dan mengikuti jalan yang benar, sehingga selamat dari adzab dan siksa pada hari qiyamah, yakni hari pembalasan. Untuk menhadapi hari akhir, qiyamah, atau menemukan kematian, maka seyogyanya disiapkan sejak dni dengan berdoa dan berharap kepada Allah agar menjadi manusia yang khusnul khotimah.

Ketiga, selalu mengingat Allah yang banyak. Orang yang selalu berdzikir dengan secara terus menerus mengingat Allah, pasti hidupnya akan mendapatkan pertolongan-Nya, dengan dianugerahi dan diberinya ketenangan, ketentraman, dalam berbagai situasi dan keadaan. Dalam berdzikir upayakan  pikiran, perasaan dan perbuatan selalu dengan khusyuk. Ada banyak ayat dalam Al Quran dan hadist-hadist nabi yang memerintahkan hal itu. Dalam syariat Islam berdzikir sebuah amalan yang penting dan tidak dibatasi jumlahnya (QS, 33 Al Ahzab:42)

Keteladanan Rasul Muhammad saw, yang harus diikuti orang yang beriman adalah, qaulun (ucapan) , wafi’lun (perbuatan), watakrirun.(tindakan). Ucapan nabi kepada siapapaun termasuk kepada yang memusuhinya selalu ramah, santun, menggunakakn pilihan kata yang baik, tepat, sesuai, mudah dipahami, tidak berbelit-belit, hormat, lemah lembut. Hal ini diungkapkan.  Ucapan nabi selalu menggunakan pilihan kata dalam berkomunikasi dengan siapa pun (sauri: 2006).  Ada enam prinsip berbahasa santun dalam Al Quran, yakni (1) qaulan sadidan artinya ucapannya selalu baik, (2) qaulan balighan artinya ucapannya selalu tepat, (3)  qaulan kariman artinya ucapannya selalu meperhatikan hormat,  (4) qaulan ma’rufa artinya ucapannya selalu baik dan benar, (5) qaulan layyinan artinya ucapannya selalu lembut, dan (6) qaulan maisura artinya ucapannya mudah di mengerti dan dipahami berbagai kalangan.

Perbuatan nabi menjadi ukuran, dasar dan panduan dalam kehidupan. Nabi berbuat sesuai dengan apa yang diucapkannya, apa yang digoreskan dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan perbuatan sejalan sesuai. Dan tindakan apa yang dilakukannya nabi selalu lebih membawa kemaslahatan kemanfaatan dunia akhirat.

Akhirnya, semoga Engkau menjadikan kami turunan kami termasuk umat Nabi Muhammad Saw, yang dapat memperolah dan menjalankan ajarannya dengan penuh kesungguhan, dan keikhlasan. Mendapatkan syafa’atul udzma nanti di yaumil akhir, yang membawa keselamatan dan menuju ridha Allah. Swt.

Semoga bermanfaat

Wallohu  a’lam

 

Oleh:  Prof. Dr. Sofyan Sauri, MPd,  Penulis adalah Penasihat DKM AL Furqan UPI