«

»

Jun 27

Hakekat Taqwa Sesudah Ramadhan

Saat ini kita merasa gembira dan rindu akan datangnya sang tamu agung yaitu bulan Ramadhan. Rasulullah mengajarkan kita untuk selalu berdoa sejak bulan Rajab sampai akhir Sya’ban selalu: “Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan”. Setiap orang yang beriman pasti rindu pada training sebulan penuh yang diadakan oleh Allah setiap tahun. Inilah pembelajaran mengenai Shiyam dan Qiyam. Shiyam sesungguhnya mengandung sesuatu yang luar biasa yang disebut dengan spirit imsak, yaitu mampu menahan diri dari berbagai nafsu. Kemudian yang kedua Qiyam, yaitu melaksanakan shalat malam, tarawih dan bertadarus mengkaji Al Quran serta investasi amalan untuk mendapatkan bonus seribu bulan pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Ini merupakan spirit ihsan, dimana setiap kita beribadah kita dilatih untuk meyakini dan merasakan seolah-olah di depan kita melihat adanya Allah.

Sudah selayaknya bila hati, perilaku, sikap, keyakinan dan nilai-nilai yang akan kita dapatkan akhirnya akan mengerucut menjadi luapan rasa syukur dan rindu terhadap karunia Allah yang sangat besar itu. Kita semua meyakini bahwa karunia Allah ini sungguh bermanfaat untuk meningkatkan kualitas kita. Al Quran menyatakan tujuan utama adalah “Agar anda semua lebih bertakwa, agar anda semua lebih bersyukur dan agar mereka lebih cerdas memperoleh kebenaran”, karenanya kita sangat berharap bahwa karunianya berkelanjutan. Kita sangat yakin apa yang ditegaskan oleh Allah dalam Al Quran surat Ibrahim ayat 7 : “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. Bahkan keyakinan yang harus kita pertahankan, apalagi dalam kondisi saat ini yaitu ayat Al Quran surat Al A’raf ayat 96 “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”.

Dalam rangka memelihara iman dan takwa, kita para sufi memberikan acuan. Yang pertama, janganlah anda berhubungan dengan Allah kecuali dengan terus menerus melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Yang kedua, janganlah engkau berhubungan dengan manusia kecuali untuk saling menasehati dengan tauladan nabi Muhammad saw. Dan jangan berelasi dengan nafsu kecuali dengan mukhalafah yaitu mengendalikan semua nafsu dengan terus menerus. Dan janganlah engkau berelasi dengan syetan kecuali dengan mukarobah atau memerangi setiap langkah syetan dan setiap saat dimanapun, kapanpun kita kamu berada.

Seorang filosof menyatakan ada pintu-pintu dari kita untuk dimasuki syetan. Satu pintu syahwat, dua pintu ghadab dan tiga pintu hawa. Apa itu syahwat? Syahwat adalah dorongan untuk mengejar kenikmatan seperti makan, minum, seks, hiburan dan yang lainnya. Untuk inilah kita dilatih dalam shaum ini merubah karakter hewani kepada karakter manusiawi. Yang kedua ghadab, imam Ghazali mengatakan inilah yang disebut emosi marah yaitu dorongan untuk mengungguli, menyerang atau mengalahkan orang lain. Yang ketiga adalah hawa, kita biasanya menyatakan hawa nafsu, ini sesungguhnya adalah egosime yaitu dorongan untuk mendahulukan keinginan, kepentingan kehendaknya sendiri. Hawa ini sesungguhnya berasal dari sifat syetan dalam diri kita. Dari hawa ini lahirlah penentangan kepada Allah, mendorong untuk fasik, munafik, muysrik bahkan kufur. Juga dari hawa ini mulai orang menciptakan aturan baru seperti mengaku menjadi Jibril, Rasul dan jadi nabi.

Rakus , serakah, bakhil, pelit, takabur, egois dan yang lain sebagainya ini adalah turunan dari ketiga tadi yaitu ghadab, syahwat dan hawa. Bila semua ini digabungkan lahirlah sifat yang sangat mengerikan yaitu sifat iri dengki, sehingga kita pantas dilatih untuk berlindung kepada Allah, memohon dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.

Semoga kita mampu mengikuti training dari Allah dan ajaran Rasul tersebut sehingga dengan demikian kita dapat membiasakan diri untuk berbuat baik, bersifat jujur, berani menegakkan hukum, berani peduli dan berani untuk melaksanakan semua rukun agama. Rasulullah menyatakan biasakanlah berbuat baik sebab untuk berbuat terus menerus diperlukan pembiasaan. Al Quran menginformasikan bahwa “Allah pelindung orang-orang yang beriman, Dia (Allahlah) yang mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya”. Bila demikian halnya, sudah semestinya bila umat islam mengupayakan, mempersiapkan sungguh-sungguh agar berhasil dalam menjalankan training Ramadhan.

Para pakar tasawuf menyatakan, sesungguhnya apa inti hakekat takwa sesudah Ramadhan? Yang pertama melatih di dalam hati, sehat dalam berkehendak, dan niat untuk menjadi manusia yang menebar rahmatan lil’alamin. Yang kedua takwanya mulut yaitu sehat tutur katanya, sehat ucapan-ucapan yang keluar dari lidahnya, dan selalu berkata yang baik. Yang ketiga puasa indranya yaitu pandangannya penuh hikmah karena sering mengkaji ayat-ayat Allah, sering berdzikir kepada Allah. Yang keempat takwanya kaki yaitu kaki ringan menuju jamaah ibadah dan ringan menuju ilmu-ilmu agama. Yang kelima takwanya perut yaitu cenderung memakan makanan yang halal dan jauh dari yang subhat. Kemudian yang keenam takwanya nafsu yaitu mengendalikan hawa nafsu sampai mereka betul-betul tunduk kepada kita. Dan terakhir takwanya tangan yaitu komitmen terhadap tangan diatas lebih baik dari tangan yang dibawah, artinya ringan di dalam bersedekah dan membantu orang lain.

Oleh, Dr. H. Suryani Ihsan, MBA.