«

»

Feb 26

Konsep Ta’lim dalam Al Qur’an

Belajar atau membelajarkan, merupakan bagian tugas pokok kerasulan. Suatu waktu Rasulullah saw keluar dari rumah kemudian masuk masjid, didapatinya di mesjid ada dua kelompok sahabat. Satu kelompok sedang berdzikir dan membaca Quran, dan kelompok lain ada yang sedang belajar serta ada yang sedang mengajar. Rasulullah mengomentari kedua kelompok itu, kedua kelompok itu sedang melakukan kebaikan, tapi salah satunya lebih baik daripada yang lain. Mana yang dia pilih? Ternyata dia memilih bergabung dengan kelompok yang sedang belajar dan mengajar. Ketika bergabung, Rasulullah bersabda: “Aku ini diutus sebagai mu’alim”, sebagai yang mengajar atau yang membelajarkan, atau sebagai guru. Ada penekanan dan kepentingan yang spesifik dari tugas risalahnya sebagai mualim, sebagai pengajar, sebagai pendidik, sebagai guru. Marilah kita kaji konsep mu’alim dan ta’lim dalam Al Quran.

Di dalam Al Quran kita banyak temukan konsep ta’lim langsung, yang berarti mengajar atau membelajarkan, dan itu tidak kurang dari empat puluh dua kali diulang. Kalau dihubungkan dengan kata-kata defrasinya, maka akan ditemukan sampai tujuh ratus lima puluh kali. Kata ilmu saja lebih dari seratus kali diulang di dalam Al Quran. Betapa fenomenalnya tentang belajar, mengajar dan ilmu di dalam Al Quran.

Sejak wahyu yang pertama diturunkan, Allah sudah mengangkat konsep ta’lim, yang membelajarkan dengan menggunakan media. Ternyata konsep-konsep itu saling menjelaskan antara satu konsep dengan konsep yang lain. Langsung saja bagaimana sesungguhnya ta’lim di dalam Al Quran itu pembelajarannya, apakah terbatas seperti materi yang di masjid tadi? Surat Ar Rahman menggambarkan pembelajaran yang sangat fenomenal dan indah. Membelajarkan manusia cara mengungkap fakta-fakta. Allah ingin membelajarkan manusia dimulai dengan matahari dan bulan yang berjalan dan bergerak dengan perhitungan yang cermat. Tumbuhan yang berbatang atau tidak berbatang semua melakukan aktifitas yang diatur oleh Allah. Bagaimana semua dilakukan? Allah pertanyakan supaya dikaji oleh manusia. Bumi ditataNya supaya nyaman dihuni oleh manusia. Sampai biji yang mempunyai kelopak cangkang luar, yang bisa melindungi dari berbagai pengaruh lingkungan, dipertanyakan, diangkat oleh Al Qur’an, supaya mengundang pembelajaran kepada manusia.

Semuanya sekedar ayat. Ayat tersebut berfungsi bila ayat itu menunjukan kepada yang dimaksud. Ayat itu tanda, ayat itu petunjuk, maka ada yang ditunjukan. Karena Allah khawatir jika manusia belajar hanya sebatas di ujung ayat, tidak sampai kepada yang ditujunya, maka Allah mengatakan:” Nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan”. Tidak mungkin kita mendustakan matahari ada dan tidak ada. Tidak mungkin kita mendustakan oksigen yang kita hirup, ada dan tidak ada. Tapi mendustakan kehadiran yang menciptakan semuanya, itu sangat mungkin. Karena itu Allah menegaskan berulang-ulang sampai tiga puluh kali. Itu adalah salah satu bentuk pembelajaran yang Allah tampilkan. Tidak saja ayat-ayat yang dipandu dengan konsep ta’lim seperti Ar Rahman secara langsung, bahkan ayat-ayat lain juga mengundang kajian dan pembelajaran yang sangat menarik, seperti firman Allah :” Dan kami turunkan besi yang mempunyai kekuatan yang hebat dan berguna bagi manusia”.

Mestinya orang beriman bertanya, mengapa besi diturunkan. Bukankah itu tantangan yang luar biasa untuk membelajarkan kita, dengan ilmu apa menjawab dan membuktikannya. Bahkan ayat-ayat hukum pun tidak kalah menantang.

Seorang ahli genetika yaitu Robert Guilhem, tepat dengan ayat yang berbicara: Wanita-wanita yang ditalaq itu, harus menunggu masa iddahnya tiga bulan. Ada apa dengan tiga bulan? Dia melakukan penelitian awal, ternyata hubungan suami istri itu menimbulkan/meninggalkan jejak rekam di istri, yang kalau tidak hubungan satu bulan itu hilang 25-30 %, jejak rekam itu akan hilang selama tiga bulan. Karena penasaran, dia melakukan penelitian ke perkampungan muslim di Amerika, ternyata istri-istri muslim tidak punya jejak rekam lain kecuali suaminya. Kemudian dilakukan juga secara simultan kepada istri-istri non muslim di perkampungan di Amerika, ternyata rata-rata memiliki minimal 2 sampai 3 jejak rekam laki-laki lain. Maka dia berkesimpulan hanya wanita muslimlah yang benar-benar suci dari jejak-jejak yang tidak halal. Yang mengejutkan lagi, dia meneliti istrinya sendiri, ternyata di istrinyapun terdapat lebih dari dua dan tiga rekam jejak. Setelah diteliti ternyata dari tiga anaknya, hanya satu yang asli betul-betul anak dia. Sejak itulah dia masuk Islam.

Ini pembelajaran yang sangat luar biasa, yang sangat dahsyat dari Al Quran. Kajian apapun, memang Al Quran mengundang agar tidak sampai di ujung ayat, sebab ayat itu hanya tanda, hanya yang menunjukkan dan ada sesuatu yang lebih substantif di atas ayat itu. Al Quran dengan segala konsepnya membelajarkan kita dan mengajak kita membelajarkan sebagaimana bimbingan Al Qur’an. Maka Spiritual Pedagogy sepantasnya lahir sebelum kita lahir. Memang harus menempatkan Tuhan pada tempat yang seharusnya diberikan kepadaNya, tidak menempatkan Tuhan ditempat lain seperti yang tidak beriman, tuhan ditempatkan ditempat lain. Pengembangan Spiritual Pedagogy harus menjadi perhatian kita, paling tidak kita dalam pembelajaran secara praktek di kelas atau dibimbingan Al Quran, kita sudah mewariskan Spiritual Pedagogy. Al Quran juga memberikan contoh pihak-pihak yang memang tidak seperti itu, tapi ini prilaku orang-orang kafir. Tatkala mereka mengamati bagaimana air hujan dari langit/turun hujan dari langit, mereka menyimpulkan bahwa itu awan yang menggumpal, tentu saja secara alamiah benar tapi Allah tidak menghendaki. Maka nanti akan dipaksa dia mengakui kehadiran Rabbnya, hingga Allah berkata :

“Biarkan mereka, sampai mereka akan menemui Rabbnya” dan ayat lain mengatakan “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik”.

Bagaimana indikator lupa diri itu? Dia memang salah saja prilakunya, tetapi mereka merasa benar saja, merasa cukup hebat. Itulah indikator-indikator, yang kalau kita tetap mengabaikan kehadiran Allah dalam seluruh upaya pengkajian fenomena alam maupun pengkajian ilmu apapun. Itulah kira-kira yang sepantasnya kita agungkan, itulah harapan-harapan Al Quran, mudah-mudahan kita diberikan kekuatan dan pertolongan Allah.

Oleh, Dr. H. Aam Abdussalam, M.Pd.