«

»

Mar 04

Mengimani, Mengilmui, dan Mengamalkan Islam

Allah SWT dalam Al-Qur’an bukan hanya memerintahkan umat manusia untuk menganut Islam, tetapi Dia pun menerangkan keistimewaan sistem ajaran Islam. Dalam Q.S. Ali ‘Imran ayat 102, Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah SWT dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam.” Dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 132, Allah SWT berfirman, “Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah SWT telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.”

Terdapat sejumlah keistimewaan Islam. Pertama, Islam merupakan agama yang diridhoi Allah SWT (Q.S. Ali ‘Imran ayat ke-19 dan ayat 85). Kedua, Allah SWT mengampuni seluruh dosa masa lalu orang kafir yang masuk Islam (Q.S. Al-Anfaal ayat 38). Ketiga, Islam merupakan agama dalil (wahyu dari Allah SWT) (Q.S. Al-Haaqqah ayat 44-46). Keempat, dalam Islam, orang yang khilaf (tidak disengaja oleh hati, lupa, atau tidak dimaksudkan) tidak dihakimi sebagai dosa (Q.S. Al-Ahzab ayat 5). Kelima, Islam mengatur segala hal, baik melalui Al-Qur’an maupun melalui Al-Hadits. Keenam, Islam adalah agama yang sempurna (Q.S. Al-Maa’idah ayat 3). Ketujuh, Islam menghendaki kemudahan dan mempertimbangkan kemampuan penganutnya (Q.S. Al-Baqarah ayat 185).

Selanjutnya, keistimewaan kedelapan, Islam disampaikan oleh Rasulullah yang dijadikan rahmat bagi alam semesta (Q.S. Al-Anbiyaa ayat 107). Kesembilan, Allah SWT menjamin kelimpahan berkah dari langit dan bumi kepada para penganut Islam (orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada-Nya) (Q.S. Al-A’raf ayat 96). Kesepuluh, beriman Islam menyebabkan seseorang terhindar dari api neraka (H.R. Muslim).

Makna Islam

Secara etimologis (istilah), kata Islam berasal dari bahasa Arab aslama-yuslimu-islaman. Islam atau islaman adalah masdar (kata benda) sebagai bahasa penunjuk dari fi’il (kata kerja) aslama yang bermakna telah selamat (kala lampau) dan yuslimu yang bermakna “menyelamatkan” (past continous tense). Kata Islam berasal dari kata aslama yang berarti “untuk menerima, menyerah atau tunduk”. Dalam hal ini, Islam berarti menerima, menyerah atau tunduk kepada Allah SWT (Tuhan). Dengan sikap dan tindakan tersebut, maka terciptalah keselamatan dan kedamaian. Pada dasarnya, akar kata dari kata aslama, yuslimu, islaman, islam, dan muslim adalah salam yang bermakna kedamaian.

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menggunakan istilah islam dalam beberapa konteks dan makna. Pertama, islam berarti “menundukkan wajah” (Q.S. An-Nisa’ ayat 125). Kedua, islam berarti “berserah diri” (Q.S. Al-Baqarah ayat 131 dan Q.S. Ali ‘Imran ayat 83). Ketiga, islam berarti “suci bersih” (Q.S. Asy-Syu’ara ayat 89). Keempat, islam berarti “selamat dan sejahtera” (Q.S. Al-An’am ayat 54). Kelima, islam berarti “perdamaian” (Q.S. Muhammad ayat 35). Dari beberapa kutipan tersebut, islam berarti menundukkan wajah dan berserah diri kepada Allah SWT, suci bersih, selamat, sejahtera, dan perdamaian. Muslim (penganut Islam) tunduk dan berserah diri kepada Allah SWT, sehingga suci bersih, selamat, sejahtera, dan hidup damai.

Secara terminologis (keilmuan), Islam artinya tunduk (ikut) kepada wahyu (bimbingan) Allah SWT sejak Nabi Adam alaihissalam yang disempurnakan Nabi Muhammad SAW. Rasulullah SAW menerangkan, “Islam itu didirikan atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang patut disembah kecuali Allah SWT dan Muhammad adalah utusan Allah SWT; mendirikan shalat; membayar zakat; menunaikan ibadah haji, dan berpuasa pada bulan Ramadhan” (H.R. Bukhari). Intinya, Islam adalah sistem ajaran yang menerima dan berserah diri kepada Tuhan yang dibuktikan dengan menyembah-Nya dan menuruti perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Islam adalah sistem ajaran yang rahmatan lil’alamin (merahmati atau mengasihsayangi alam semesta), baik merahmati diri, orang lain, dan lingkungan sosial dan alam, sehingga tercipta kedamaian.

Iman, Ilmu, dan Amal

Apabila Allah SWT menyuruh umat manusia untuk beriman dan bertakwa kepada-Nya, maka yang perlu dilakukan umat manusia dan sesuai dengan iman dan takwa itu sendiri adalah mengimani Islam, berislam dengan ilmu, dan melaksanakannya karena Allah SWT. Bukan sekadar percaya (iman), melainkan harus mempercayai (mengimani) kebenaran, yang dalam hal ini terletak dalam Islam. Kebenaran dapat dimaknai sebagai kesesuaian antara keyakinan maupun pernyataan dengan kenyataan. Sistem ajaran Islam adalah benar karena sesuai dengan kenyataan alam dan kenyataan nilai-nilai luhur. Untuk membuktikan kebenaran dan meraih manfaat berlimpah dari Islam adalah berislam dengan ilmu. Ilmu adalah keterhubungan utuh dan sistematis antar bagian kenyataan

Berislam dengan ilmu artinya menganut Islam dengan pemahaman. Bukan mengetahui bagian ajarannya saja, melainkan mengerti secara utuh dan sistematis. Alhasil, kadar pelaksanaan amal ibadah menjadi lebih maksimal dan tepat sasaran. Kombinasi iman, ilmu, dan amal bukan saja efektif mencapai makna Islam yang sesungguhnya, melainkan juga akan terasa faedahnya berupa pengalaman hidup yang suci bersih, selamat, sejahtera, dan damai. Islam yang didekati iman, ilmu, dan amal niscaya tidak berakibat musibah, melainkan berkelimpahan berkah dari langit dan bumi (Q.S. Al-A’raf ayat 96). Dengan demikian, umat Islam akan berkelimpahan bantuan, berkat, hidayah, inayat, karunia, kebahagiaan, kurnia, pangestu, pertolongan, rahmat, dan tuah dari langit dan bumi.
Semoga kita, khususnya penulis, berislam dengan iman, ilmu, dan amal. Aamiin yaa robbal ‘aalamiin. Wallahu a’lam bi al-showab.

Oleh : Mi’raj Dodi Kurniawan, S.Pd.