«

»

Nov 14

Mengingat Kematian

Kita sudah beragama islam, melaksanakan shalat dan beribadah, namun masih ada beberapa hal yang harus kita perhatikan. Para ulama yang terbaik dari umat Muhammad ialah yang hidup di awal syariat ini. Kelompok salafi menyampaikan jika ada umat di akhir jaman, kita ini disebut Al Khallaq yang beriman. Mereka juga yakin bahwa rizki itu diatur Allah, tetapi di dalam kesehariannya masih juga mereka berusaha mengejar rezeki itu dengan menghalalkan segala cara. Dan mereka juga yakin bahwa suatu hari pasti akan mendapat panggilan Allah dalam kematian, namun tingkah lakunya sehari-hari sama sekali tidak menunjukan seperti orang yang akan menghadapi kematian.

Seperti dinyatakan oleh Rasul, Golongan salafi itu mempunyai ciri khas baiknya disebabkan oleh imannya yang kuat dan zuhud dunia. Perbandingan kita ini disinyalir sebagai beriman tetapi lemah dan masih saja tingkah lakunya di tentukan oleh panjangnya angan-angan. Panjang angan-angan dalam pelajaran agama itu jika diterjemahkan dalam bahasa sehari-hari ialah masih suka melamun. Yang kedua panjang angan-angan disebabkan karena perkembangan daripada budaya dunia yang luar biasa dahsyat. Oleh karena itu kita harus saling mengingatkan untuk memperbaiki diri sedikit demi sedikit, selangkah demi selangkah. Tentunya ini pelajaran bahwa perubahan hanyalah hasil dahsyat daripada ilmu. Tidak ada agama bagi yang tidak berilmu, maka kita harus bersyukur sampai sekarang ini masih ingin juga menambah ilmu masing-masing.

Pendekatan keilmuan artinya, bagaimana kita melaksanakannya? Dijelaskan oleh mereka yang terdahulu tadi setelah mempunyai ilmu. Yang pertama ialah berusaha mengejar ilmu sampai kemanapun. Tiada hari tanpa mencari ilmu. Kemudian yang kedua, jika ilmu itu sudah didapat maka ridhioilah ilmu itu. Meridhoi ilmu artinya yang baik kita terima dan kita kerjakan, yang burukpun sebagai petunjuk kita terima dan kita meninggalkannya. Langkah ketiganya ialah istiqomah.

Pembagian ilmu di dalam agama ada empat cabang pokoknya, yaitu: yang pertama ialah ilmu mulia, ilmu yang membawa kita kenal siapa Allah yang kita sembah; kedua ialah ilmu yang bermanfaat. Kebanyakan daripada ilmu fiqih yang membuat kita bisa dan mampu melaksanakan ibadah menurut aturannya; ketiga ilmu bergaul dengan akhlak yang tinggi; yang keempat disebut ilmu yang paling pokok di dalam Islam ialah ilmu menghadapi kematian. Sehingga kita mengenal Allah untuk kemudian beribadah kepadaNya.

Kita bergaul dengan orang yang berakhlak baik, semuanya kita niatkan untuk mempersiapkan perjalanan kita masing-masing untuk akhirnya kita zuhud di dalam menghadap Allah. Bagi anak-anak yang masih muda belia, yang masih awal belajar agama dan masuk ke Masjid maka pelajarilah sedikit demi sedikit bagian akhir itu yaitu kita akan menghadapi kematian. Sebab dengan tahu bahwa akan mati maka dengan sendirinya kita sudah memiliki persiapan di dalam menjalaninya.

Tekunilah ini sebagai pengetahuan kemudian terimalah dan santunilah. Bagaimana dengan yang sudah sibuk kerja mencari harta dunia dan yang sering melupakan? “Sisakan sedikit apa yang diberikan oleh Allah kepadamu itu untuk mengejar akhiratmu, tetapi jangan lupa bahwa kamu masih hidup di dunia ini”. Tetapi yang sudah tua, maka layaklah dia mengambil satu peningkatan dari mulai tahu di hari muda, menjadi mengerti di hari dewasa nanti, dan setelah tua menjadi paham tentang kematian itu. Rasulullah memanggil kita semua yang sudah berusia. Ingatlah setiap hari dan jangan sampai terlupakan bahwa apa yang dihasilkan dari dunia yang disebut dengan kenikmatan dan kesenangan akan diputus oleh Allah.

Maka disampaikanlah penyebab umum mengapa kita menjadi sangat tertarik dan terjebak pada dunia itu. Allah berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 257 “Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. Hijrah dan sebagainya intinya hanyalah satu yaitu membuat hati yang gelap menjadi terang. Sejak di dalam kandungan ibu kita sudah di beri mata lahir bashor, bashor itu melihat lingkungan kandungan, lahir menjadi anak di lingkungan anak-anak, menjadi pemuda di lingkungan dewasa, dan tua lingkungan kerja. Semakin luas dunia dijelajahinya, semakin terpikat mata lahir itu kepada keadaan, kemajuan, suasana keindahan, kesenangan dunia. Sehingga kita menjadi terjebak hanya memperhatikan dunia itu dan lupa mata yang lain ialah mata hati kita masing-masing yang disebut bashiroh, bashiroh itu menjadi gelap, menjadi tidak punya pandangan apa-apa.

Secara syariat yang disebut terjebak, tergadai, dipenjara oleh masalah-masalah dunia lahiriah ini, disamping itu perbuatannya dibantu oleh 3 musuh kita yang abadi, nomor satu adalah syetan. Syetan itu sebetulnya tidak punya kekuasaan apa-apa kecuali berbisik-bisik, tetapi bisikan itu demikian dahsyatnya sehingga membuat nabi Adam yang sudah senang di surga menjadi terjerumus kepada yang dilarang Allah sehingga turun ke dunia ini. Sejak kecil, dewasa dan tua kita masih juga dibisikinya. Bisikan itu ialah bagaimana kita bisa hidup lebih senang atau bisa hidup lebih baik. Hampir-hampir kita dibuatnya sepanjang waktu melamun tentang keindahan dan kesenangan dunia dan itulah yang disebut berpanjang angan-angan dan syetanlah yang membuat kita berpanjang angan-angan.

Kemudian sesudah itu musuh kita yang abadi dan terkuat ialah nafsu kita masing-masing. Rasulullah mengatakan dalam perang badar: Kita baru selesai perang yang kecil memasuki perang yang besar. Para sahabat bertanya perang apa pula gerangan yang lebih besar dari yang baru selesai? Itulah perang terhadap nafsu masing-masing. Sesungguhnya nafsu punya sifat dasar yang kokoh, tidak pernah mengajak berbuat baik kepada kita dan nafsu itu mengejar dunia dengan rakusnya, maka kita menjadi tamak. Setelah oleh syetan dibuat berangan-angan, maka mengejarnya kita menjadi rakus.

Yang terakhir musuh kita yang ketiga ialah dunia ini sendiri. Dunia itu hanya mengajak kita lupa, lalai dan bersenda gurau, semua apa yang kita lihat di dalam kehidupan sehari-hari diproyeksikan di atas layar kaca hanyalah senda gurau dan karena itu tiba-tiba seperti yang disebut juga oleh Allah, hidup yang lalai itu ialah bahwa kita tiba-tiba di dalam kematian tetapi belum bertaubat, maka lalai didefinisikan umur habis, taubat belum.

Itulah yang menyebabkan hati menjadi gelap, tidak memiliki cahaya sama sekali. Tentunya Allah yang berhak memberikan cahaya. Cahaya itu akan datang dengan rahmatNya Cahaya itu akan datang jika kita mau menerima apa yang diberikan oleh Allah. Semoga kita semua tidak terlalu memperhatikan jaman tetapi lebih konsentrasi terhadap gelapnya hati masing-masing. Dan jika hal ini mulai terawali dan terperhatikan niscaya Allah menurunkan rahmat, dan itulah yang akan membawa kita terang kembali menghadap kehadiratNya.

Oleh, dr. H. Rahman Maas