«

»

Nov 28

Mengokohkan Iman dengan Ilmu

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”.

Kenapa mengungkap ayat ini? Karena ada satu wacana sederhana, tapi cukup mencengangkan. Baru baru ini muncul sebuah permasalahan mengenai penghapusan kolom agama pada kartu tanda penduduk, alasannya seakan logis dan sederhana yaitu karena agama sering menjadi alat untuk mendeskriditkan seseorang. Jika alasannya seperti itu, tentu logikanya kurang bisa diterima. Mengapa? Karena tidak hanya agama saja yang bisa mendiskreditkan seseorang, umur pun mampu membuat orang mendeskriditkannya. Contohnya ketika mahasiswa ingin memperoleh beasiswa yang dilihat adalah umurnya. Demikian pula asal penduduk. Asal wilayah seseorang yang ada di KTP itupun bisa membuat pendeskriditan. Artinya KTP tidak lagi punya identitas apa-apa, sebab namapun sekarang sudah membuat pendeskriditan. Sebagai tanggapan sederhana, saya berasumsi bahwa alasannya sebenarnya mungkin bukan itu. Melainkan ini adalah sebuah strategi yang sistematis yaitu ingin mencoba mensekulerasikan kehidupan kita ini setahap demi setahap, sedikit demi sedikit agar pada akhirnya umat muslim dijauhkan dari agamanya setahap demi setahap.

Sebagai seorang yang beriman, kita semua harus menyadari bahwa kalau kita sudah menandatangani kontrak sebagai orang yang islam dengan bersyahadat dan sejak itu tidak ada pilihan lain dalam hidup kecuali mengikuti jalan Allah. Demikian yang diingatkan oleh Allah SWT pada surat Al Ahzab ayat 36:” Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”. Maknanya ketika manusia yang beriman tadi sedikit demi sedikit menjauh dari agama Allah dan dari aturan Rasulnya, maka dia akan binasa dan akan tersesat. Ayat ini jelas memberikan suatu pesan moral kepada kita semua yaitu agar kita mau mengislamkan segenap apa yang ada pada diri kita diantaranya mengisalamkan pola pikiran dan prilaku kita yang masih belum islam. Mengapa? Karena jika tidak demikian, Allah menegaskan bahwa manusia tidak akan memiliki jalan yang pasti dan dia akan binasa karena mengikuti kesesatan.

Maka ijinkanlah sedikit saja mengungkapkan tentang ikhwal sekularisme ini agar kita tahu kapan nilai sekularisme melanda umat-umat beragama di seluruh dunia. Salah seorang staf ahli manejemen memaparkan bahwa paham sekularisme berangkat dari pemberontakan kaum cendekiawan terhadap dominasi gereja di Inggris. Pada tahun 1851 didirikan sebuah komunitas masyarakat sekuler di London. Paham ini mengajarkan bahwa untuk hidup di dunia tidak diperlukan lagi agama, kitab suci, tuhan dan nabi. Kehidupan di dunia ini hanya memerlukan pemikiran dan akal manusia semata. Kata sekuler berasal dari bahasa latin saeculum yang berarti kini dan di sini. Paham ini meniscayakan kehidupan dunia semata dan menisbikan kehidupan akhirat nanti.

Sinyalemen, ungkapan ini sebenarnya sejalan dengan antisipasi yang Allah tegaskan dalam Al Quran, surat Al jaatsiyah ayat 24: “Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja”.

Sikap ini muncul kembali di abad 19, 20, dan di abad sekarang ini. Ini semua tentu memperihatinkan bagi kita semua. Strategi yang mencoba menjauhkan umat beragama dari agamanya, umat muslim dari keimanannya setahap demi setahap.

Jika umat muslim mencoba mensekulerkan segmen kehidupannya sedikit demi sedikit, dimulai dari politiknya, kemudian sainsnya, bahkan rumah tanggapun disekulerkannya, maka sesungguhnya manusia muslim yang seperti ini sedang setapak demi setapak menuju kemurtadannya. Jika ini yang terjadi, khawatir akan terhimpun masyarakat yang sekuler yang kemudian akan berkembang menjadi sebuah bangsa yang sekuler. Apabila bangsa ini sudah sekuler dan sudah jauh dari Allah, sekali lagi kita khawatir apa yang Allah tegaskan tadi yaitu kita akan binasa dan tersesat. Kita khawatir bangsa dan negeri ini akan hancur luluh karena umatnya jauh dari Allah SWT.

Sebagai insan pendidikan, apapun profesi kita sebenarnya kita adalah pendidik baik pada tatanan informal, formal maupun non formal. Untuk mengatasi paham sekularisme yang terus dikumandangkan saat ini, maka pendidikan menjadi tonggak utama. Pendidikan menjadi pendekatan yang paling strategis untuk mengembalikan anak-anak bangsa menuju insan yang beriman, kaffah, takwa, cerdas, yang memiliki akhlak yang mulia. Mudah-mudahan dengan adanya kurikulum, patut kita banggakan karena kurikulum ini mencoba untuk menegaskan bahwa kualitas lulusan kedepan adalah lulusan yang memiliki empat kompetensi dasar, yaitu: kompetensi spiritualitas, kompetensi sosial, kompetensi keilmuan, dan yang terakhir adalah kompetensi keterampilan. Oleh karena itu, kita semua harus bersama-sama memperkokoh barisan, mengawali implementasi dari kurikulum ini.

Hal tersebut di atas sejalan dengan ungkapan Allah SWT dalam Surah Al Alaq. Ayat ini turun dalam suasana manusia sedang hancur. Masyarakat sedang hancur, ekonominya penuh dengan keribaan, perbudakan, kemudian moralitas bangsa waktu itu dalam titik nadir kehancuran. Kemudian Rasulullah berkontemplasi ingin mencari jawaban bagaimana keadaan sosial ini bisa diubah. Tidak lama kemudian Allah memberikan jawaban. Manusia diingatkan kepada tuhannya agar dia sadar siapa dirinya berada di muka bumi ini. Manusia harus di dekatkan kepada Allah, untuk itulah Allah memfasilitasi kita dengan ilmu. Kata seorang Profesor, ini sebenarnya adalah pendekatan yang Allah berikan agar manusia mampu berilmu, mampu mengatasi problematika sosialnya untuk menuju kebaikan. Allah berikan ilmu melalui pendekatan Al qolam, pendekatan metodologis, pendekatan ilmiah, dengan wujudnya hukum-hukum Allah. Sunat-sunatullah yang ada ini Allah ajarkan kepada Adam dan makhluknya. Namun demikian, apabila hanya ilmu empiris dan metodologis semata rupanya masih banyak persoalan hidup yang tidak diselesaikan. Oleh karena itu, Allah melengkapinya. Allah ajarkan wahyu melalui nabinya untuk sesuatu yang tidak bisa dijangkau oleh pemikiran manusia. Mudah-mudahan perpaduan antara akal dan wahyu, antara pemikiran dengan iman berpadu untuk membangun masyarakat madani, masyarakat Indonesia kedepan. Mudah-mudahan sekularisme tidak lagi mewarnai bangsa ini, mudah-mudahan bangsa ini benar-benar berada dalam kekokohan iman dan takwa.

Oleh, Dr. H. Mad Ali, MA.