Jun 20

Nikmatnya `Umrah Ramadlan

Berdasarkan suatu informasi, Nabi Muhammad saw pernah menyatakan bahwa “Barangsiapa yang melaksanakan ibadah umrah pada bulan suci Ramadlan, maka ia seolah-olah melaksanakan ibadah haji bersamaku”. Membayangkan diri kita bersama beliau adalah suatu kenikmatan yang luar biasa, apalagi ditengah tradisi beliau lainnya seperti shalat tarawih, tadarrus Alquran, berinfaq, bershadaqah, dan i`tikaf di masjid merupakan rangkaian ibadah sunnah yang hanya akan kita nikmati pada saat melaksanakan umrah ramadlan.

Terlepas dari itu semua, jika kita mencermatinya dengan sungguh-sungguh, melaksanakan ibadah umrah pada bulan suci ramadlan di tanah suci Makkah al-Mukarramah memiliki nilai-nilai yang tergolong istimewa. Keistimewaan itulah yang banyak memotivasi umat muslim dari seluruh penjuru dunia, tak terkecuali dari Indonesia untuk pergi ke tanah suci melaksanakan ibadah umrah.

Selain karena aspek pahalanya yang berlipat ganda, juga ada kepuasan ruhiyah atau psikologis. Bila di tanah air kita, Indonesia, jarang kita mengalami tarawih dengan jutaan orang, maka di Makkah dan Madinah akan ditemukan. Bila di Indonesia jarang kita mengikuti shalat sunnat tarawih 23 rakaat dengan bacaan imam setiap shalat sunnat tarawih membaca ayat Alquran satu juz setiap malam tarawih, maka di sana akan dialami. Bila di tanah air kita tidak biasa menemukan ta`zil bersama di masjid, maka dirasakan nikmatnya ta`zil bersama bahkan setelah itu yang melayani kita membisikkan “Mudah-mudahan Anda diberkahi oleh Allah, tidak kapok bersama kami, dan besok kami harapkan Anda bersama kami lagi di sini untuk ta`zil”. Adalah suasana yang jarang terjadi pada musim haji sekalipun. Dan lain-lain kenikmatan ruhiyah lainnya yang tak mampu kita deskripsikan melalui kata-kata.

Atas dasar apakah pergi berumrah pada bulan suci ramadlan? Seperti lazimnya pergi berhaji, maka setiap umat muslim yang telah memiliki kemampuan finansial, dan waktu yang lowong diperkenankan pergi ke sana. Tetapi dari kesemua kemampuan atau yang lazim disebut pembekalan diri, adalah taqwa kepada Allah swt.

Mengapa taqwa kepada Allah swt yang menjadi bekal utama melaksanakan umrah? Sebab, boleh jadi ada saja orang yang ke sana hanya karena termotivasi oleh hal-hal yang bersifat duniawiyah seperti sombong, ingin memperoleh pujian dari orang lain, atau sekedar mengejar pahala. Pada aspek yang terakhir ini, kata Al-Faraby, bila ada seseorang yang beribadah hanya karena mengejar pahala, maka yang bersangkutan tak ubahnya mempunyai sifat dan watak seperti pedagang. Yang namanya pedagang, “Kalau ada untung maka dia jual atau usahakan, tetapi kalau tidak ada keuntungannya untuk apa diusahakan”.

Umrah berarti meramaikan. Apa yang kita ramaikan dan seperti apa bentuk keramaian yang akan kita lakukan saat beribadah umrah? Yang diramaikan setiap orang yang berumrah adalah Bayt Allah (sebutannya Baitullah atau Ka`bah atau Qiblat) dengan cara mengelilinginya sebanyak tujuh kali putaran yang dimulai dari sudut Hajar al-Aswad dan mengakhirinya di sudut Hajar al-Aswad lagi. Pada awal putaran disunnahkan membaca Allahu Akbar sambil mengangkat tangan searah sudut Hajar al-Aswad berputar mengelilingi Ka`bah pada posisi sebelah kiri badan kita atau mengikuti putaran arah berlawanan putaran jarum jam. Setelah putaran ketujuh berakhir, berdoalah di depan Multazam. Posisi Multazam antara sudut Hajar al-Aswad dengan pintu Ka`bah. Setelah itu shalat sunnat (bahkan ada mazhab fiqh yang mewajibkan) dua rakaat di depan maqam nabi Ibrahim as (tempat berdirinya nabi Ibrahim as ketika membangun Bayt Allah).

Adapun urutan proses dan prosesi ibadah umrah yang akan dilaksanakan sejak dari tanah air hingga kembali lagi ke tanah air (rumah) adalah:

  1. Niat untuk ibadah umrah karena Allah ta`ala
  2. Memiliki beberapa dokumen yang dipersyaratkan baik dari Pemerintah RI, travel/biro perjalanan, dan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi
  3. Melunasi biaya yang ditetapkan oleh travel/biro penyelenggara umrah
  4. Memperoleh keterangan kesehatan dan telah divaksin meningitis (seperti halnya kalau pergi ibadah haji)
  5. Menyediakan beberapa helai pakaian, kain ihram (untuk pria), obat-obatan dan keperluan pribadi untuk keperluan selama di Arab Saudi
  6. Memperoleh pengetahuan manasik ibadah umrah
  7. Melakukan shalat sunnat safar (bepergian) dua rakaat sebelum ke luar dari rumah atau di masjid yang terdekat dengan rumah
  8. Menaiki kendaraan darat dan udara yang telah disediakan oleh pihak travel/biro perjalanan
  9. Memperbanyak zikr, tawakkal, ikhlas, dan membaca Alquran selama dalam perjalanan
  10. Setiba di Miqat (tempat start melafazkan niat umrah), melakukan kegiatan: mandi sunnah ihram, berwudlu, dan shalat sunnah ihram dua rakaat
  11. Selama perjalanan ke tanah suci Makkah al-Mukarramah, perbanyaklah mengucapkan talbiyah “Labbayka Allahumma labbayk, Labbayka la Syarika laka labbayk Innal hamda wanni`mata laka walmulk la Syarika lak”. Setelah itu, akhirilah dengan ucapan do`a dan shalawat kepada Rasulillah saw.
  12. Setiba di tanah haram Makkah, simpanlah barang bawaan (hand bag) atau perhiasan lainnya di kamar masing-masing (bagi hotel atau funduq yang ada safety box-nya), kalau tidak titipkanlah pada petugas hotel atau petugas travel/biro penyelenggara umrah
  13. Bagi yang telah batal wudlunya, hendaknya berwudlu kembali di kamar hotelnya masing-masing
  14. Keluarlah dari hotel atau funduq secara bersama-sama dengan rombongan atas bimbingan Ustaz Muthawwif (Guide) menuju masjid al-Haram Makkah al-Mukkaramah
  15. Lepaskan alas kaki (simpan di kantong plastik atau box yang tersedia di dalam masjid) sambil membaca doa masuk masjid
  16. Membaca doa tatkala mulai melihat Ka`bah
  17. Setelah berada pada sudut Hajar al-Aswad lambaikanlah tangan kea rah sudut Hajar al-Aswad sembari mengucapkan Allah Akbar setelah itu kecup atau tanpa mengeluarkan bunyi-bunyian kecupan. Mulailah hitungan putaran pertama. Dan hingga ketujuh. Setiap sampai di sudut rukun Yamani disunnahkan membaca “Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina `azaban Nar, wa adkhilnal Jannata ma`al abrar ya `Aziz ya Gaffar ya Rabbal `Alamin”.
  18. Setelah putaran ke tujuh selesai, berdoalah di depan Multazam (posisinya antara sudut Hajar al-Aswad dengan pintu sebelah kanan Ka`bah)
  19. Lakukanlah shalat sunnat dua rakaat (ada Imam mazhab fiqh yang menyatakan wajib) di depan maqam (bekas tempat berdirinya) nabi Ibrahim as.
  20. Bagi yang thawaf siang hari, jangan meminum air zam-zam (kecuali di malam hari) karena sedang berpuasa
  21. Setelah itu ke arah sebelah kanan menuju bukit Shafa untuk memulai sa`i tujuh kali perjalanan. Mulai dari bukit Safa dan berakhir di bukit Marwah. Perlu diingatkan bahwa, pada setiap perjalanan sa`i akan melintasi pilar hijau (ada tanda tiang tembok berwarna hijau dan lampu neon berwarna hijau), di mana setiap pria disunnahkan berlari-lari kecil baik ketika menuju bukit Marwah maupun ke bukit Shafa
  22. Setelah sampai dibukit Marwah perjalanan ke tujuh merapatlah ke tembok sambil menghadapkan diri kea rah qiblat berdoa akhir sa`i
  23. Menggunting rambut masing-masing minimal tiga helai. Bila ada teman yang membutuhkan bantuan untuk diguntingkan rambutnya hendaknya yang dimintai bantuan menggunting rambutnya terlebih dahulu
  24. Selesai sudah proses dan prosesi ibadah umrah saat itu. Selanjutnya, kembali ke hotel dan masuk ke kamar masing-masing untuk mandi buang hadas dan mengganti pakaian seperti biasa lagi.
  25. Selain itu perbanyaklah membaca Alquran dan ibadah lainnya serta banyak-banyaklah mengambil hikmah selama di tanah haramayn untuk di bawa sebagai oleh-oleh kembali ke tanah air.

Persyaratan untuk melaksanakan umrah sama dengan umrah di luar bulan suci ramadlan, yaitu: (1) uang pergi pulang dan bekal selama di sana, (2) mempunyai passport dan telah memperoleh izin visa dari Kedutaan Arab Saudi di Jakarta, (3) ada travel atau biro perjalanan yang mengurus atau menjamin kepergian, selama di Arab Saudi, dan kepulangan ke tanah air, (4) sehat jasmani dan ruhani, (5) merdeka, (6) balig, serta (7) istitha`ah atau mampu.

Teriring ucapan rasa tahni`ah kami kepada Saudara-saudaraku yang akan dan sedangn melaksanakan ibadah umrah di tanah suci pada bulan suci nan mulia yang di dalamnya penuh barakah, ampunan dari Allah. Dan, semoga selama Anda di sana siapa tahu ketiban rizqi besar yaitu memeroleh anugerah ketetapan dari Allah swt pada laylat al-Qadr yang rentang waktunya sama dengan 1000 bulan (Qs. Al-Qadr/97:3) atau yang jika kita hitung menurut ukuran manusia, setara dengan 83 tahun 4 bulan (melebihi usia harapan hidup manusia Indonesia, 67 tahun), atau 4.000 minggu atau 28.000 hari atau 672.000 jam atau 1.440.000 menit atau 259.200.000 detik, atau 1.866.240.000 sekon, atau setara dengan 150.000 waktu shalat fardlu. Karena selama berada di sana, setiap jamaah umrah melaksanakan shalat fardlu secara berjamaah di masjid al-Haram, maka pahalanya 4.050.000 derajat.

Ditambah lagi dengan rata-rata lama waktu umrah di sana 10 hari , berarti akan memeroleh 1350 derajat pahala shalat fardlu. Apalagi diikuti dengan bershadaqah, maka setiap satuan shadaqah yang dikeluarkan akan dilipatgandakan pahalanya menjadi 700 kali lipat. Bisa dibayangkan bila kita bershadaqah karena Allah setiap hari bershadaqah 50 SAR perhari selama 10 hari maka akan diperoleh 350.000 derajat pahala. Belum lagi kita hitung pahala membaca huruf demi huruf Alquran, pahala shalat sunnat tarawih, belum lagi bagaimana maqbulnya lafaz-lafaz doa yang terungkap, belum lagi shadaqah, infaq serta berkahnya dari Allah. Dan lain-lain.

Dengan adanya perhitungan di atas, maka terlalu kecil, dan bahkan jumlahnya sangat sedikit jika setiap jamaah umrah mengeluarkan uang Rp 15-20 juta untuk berumrah pada bulan suci ramadlan.

Maka pantas bila Allah swt jauh sebelum kita ada telah mengingatkan secara material kepada kita bahwa jika kalian enggan, penuh pertimbangan materialistik sehingga takut uangnya berkurang, maka ketahuilah sesungguhnya Allah itu Yang Maha Kaya, karena Ia-lah pemiliki alam ini (Qs. Ali `Imran/3:97).

Semoga kita semakin menyadari betapa kecilnya diri kita berikut semua yang kita miliki. Tidak akan seberapa nilainya di hadapan Allah. Itu sebabnya, mengapa dan sengaja kita hitung dan gambarkan nilai kapitalnya, agar kita tahu persis betapa Allah itu, Maha Rahman dan Al-Wasi` meliputi keseluruhan manusia, karena Dia-lah Rabb al-Nas dan Rabb al-`Alamin.

 

Oleh, Prof. Dr. H. Abdul Majid, M.A.
Guru Besar Pengkajian Islam UPI