Jan 02

Pelajaran dan Peringatan dari Kisah Nabi Luth

Melalui ayat-ayat Al Quran, Allah SWT telah mengisahkan perjalanan umat manusia di masa lalu, baik umat yang taat ataupun umat yang durhaka kepada Allah SWT. Pada kisah umat yang taat, mereka selalu berada dalam lindungan Allah sehingga hidupnya memperoleh keselamatan dan kesenangan. Namun sebaliknya, kisah umat yang durhaka ditandai dengan perilaku buruk dan dalam perjalanan hidup mereka senantiasa diiringi kesengsaraan dan kebinasaan. Kisah seperti ini Allah paparkan melalui firmannya agar manusia dapat mengambil pelajaran bahwa setiap perilaku baik akan selalu menghasilkan keselamatan dan kesenangan. Begitu juga sebaliknya, perilaku yang buruk, jahat, dan perilaku yang menyimpang dari aturan-aturan Allah akan membawa kenistaan dan kehancuran baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Terkait dengan kisah Qurani, Allah SWT melukiskan dalam surat Yusuf [12]: 3: “Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur’an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahuinya”. Salah satu kisah yang akan diceritakan adalah kisah kaum Luth yang dapat dijadikan pelajaran bagi kita sekaligus peringatan seperti yang Allah firmankan dalam surat Al A’raaf ayat ke 80-84 dan diperkuat oleh surat Hud ayat 77-83. Dalam kedua surat tersebut dikisahkan bahwa Luth adalah seorang rasul yang diutus Allah di negeri Yordania, daerah Sodom. Di negeri itu kaum Luth telah terjangkit penyakit kebobrokan akhlak yaitu homoseksual. Luth mengajak umatnya untuk kembali kepada tauhid dan meninggalkan perilaku buruk.“Dan (ingatlah) ketika Luth berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang sebelumnya belum pernah dikerjakan oleh seorang pun dari umat-umat sebelum kamu”. Apakah sesungguhnya kamu mendatangi laki-laki, menyamun, dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu?” Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar”. Pada saat kedurhakaan kaum Luth memuncak, Allah mengutus para malaikat untuk menyelamatkan Luth dan keluarganya serta umatnya kecuali istrinya. “Para utusan (malaikat) berkata,’Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu. Sebab itu, pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu pada akhir malam, dan janganlah ada seorangpun di antara kamu yang tertinggal kecuali isterimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka, karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah pada waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat?’. Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tidak jauh dari orang-orang yang zalim”. (QS. Huud [11]: 81-83)

Setelah sekian lama penyakit kaum Luth lenyap dari muka bumi ini, kini penyakit itu telah muncul kembali di tengah kehidupan kita dengan hadirnya kaum homoseksual, lesbi serta kaum yang biasa melakukan penyimpangan seksual. Akibat dari itu, pada tahun delapan puluhan telah ditemukan suatu penyakit yang mengancam kehidupan manusia di muka bumi ini yang dikenal dengan nama AIDS. Menurut para ahli AIDS yang ditimbulkan virus HIV yang mengakibatkan hilangnya kekebalan tubuh manusia dan sampai saat ini belum dapat disembuhkan. Penyakit ini dapat merenggut kehidupan manusia secara cepat bahkan termasuk penyakit pembunuh manusia yang paling membahayakan. Bila kita simak dan perhatikan kisah kaum Luth dan timbulnya penyakit AIDS yang menimpa manusia saat ini terdapat kesamaan, yakni berawal dari perilaku seksual yang menyimpang yang mengakibatkan datangnya azab Allah. Pada kaum Luth Allah mengazabnya dengan cara membumi hanguskan kehidupan mereka, sementara kini Allah mengazabnya dengan mencabut kekebalan tubuh yang membawa kehancuran hidupnya. Rasulullah saw mengingatkan kepada kita “Sesungguhnya yang amat aku takuti dan paling aku takuti atas umatku ialah perbuatan kaum Luth”. Dalam hadits lain ditegaskan “Apabila telah banyak kejadian laki-laki berhubungan dengan laki-laki maka Allah akan mencabut tangan dari makhluknya, Allah akan mencabut kekebalan dari tubuhnya, sehingga tidak diketahui lagi di lembah mana mereka itu akan hancur”.

Tanggal 1 Desember telah ditetapkan sebagai hari AIDS sedunia. Hal ini mengingatkan kepada kita, bahwa dalam kurun waktu 34 tahun HIV AIDS telah masuk keseluruh penjuru dunia termasuk di Indonesia. Catatan statistik HIV dan AIDS yang ada di Indonesia menunjukan bahwa yang telah terkena HIV sebanyak 150.260, yang terkena AIDS berjumlah 50.259 orang, dan yang meninggal berjumlah 9.769 orang.

Manakala dalam kehidupan manusia ledakan AIDS dan HIV terjadi seperti yang diprediksi para ahli, maka pada saat nanti akan terjadi jutaan korban dimana setiap korban hanya menunggu waktu kematian karena obatnya belum ditemukan. Kesedihan, kepedihan yang mendalam, kekhawatiran, ketidak pastian dan ketakutan akan terjadi. Ledakan HIV AIDS akan menimbulkan kecemasan dan ketakutan dalam masyarakat. Kemudian akan banyak anak-anak yang terusir dari kelasnya, akan banyak pekerja yang terusir dari kantornya, akan banyak manusia-manusia yang terisolir sehingga terjadilah diskriminasi dalam kehidupan umat manusia.

Hasil penelitian para dokter menunjukan, bahwa sementara ini kalangan masyarakat pada umumnya beranggapan bahwa penyakit AIDS hanya menimpa pada orang-orang yang berperilaku seksual menyimpang. Pendapat tersebut tentu saja tidak selamanya benar. Bila kita perhatikan peristiwa yang menakutkan ini, ternyata penelitian menunjukan bahwa penularan penyakit ini diantaranya melalui hubungan seksual sebanyak 75 %. Data tersebut mengingatkan bahwa penyebab utama dan pertama adalah penyimpangan perilaku seksual dari norma-norma yang sehat yang dibenarkan agama. Namun demikian penyebaran penyakit ini juga melalui cara parenatal dan perinatal sebanyak 20 %, sehingga penyakit ini bisa tertular pada orang-orang yang tidak berdosa. Di dunia tercatat dua juta orang anak yang tidak tahu apa-apa tentang AIDS sudah terkena. Hal ini terjadi kenapa? Karena ketidak-arifan dan ketidak hati-hatian dalam menyikapi penyakit ini. Allah SWT mengingatkan kepada kita “Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya” (QS. Al Anfaal [8]: 25). Ayat ini mengingatkan kepada kita agar kita waspada, hati-hati dan bijaksana dalam menyikapi setiap keadaan khususnya terkait dengan peristiwa fitnah.

HIV AIDS sebagai masalah kemanusiaan dengan segala kompleksitasnya tidak akan dapat dipecahkan hanya oleh satu disiplin ilmu kesehatan. Alasannya sederhana yaitu karena persoalan HIV AIDS yang menimpa manusia merupakan masalah kompleks yang beraspek multi dimensi, karena itu harus didekati multi disipliner. Dengan kata lain HIV AIDS harus dipecahkan bukan hanya dari segi kesehatan semata, tetapi juga dari aspek agama, sosial, ekonomi dan lainnya serta bertolak dari perilaku individu, keluarga, komunitas tertentu serta seluruh masyarakat. Kesadaran bahwa agama merupakan faktor utama dan pertama di dalam penanggulangannya, perlu mendapatkan perhatian baik mengenai konsep pendekatan maupun dalam implementasinya. Agama kita telah memberikan tuntunan seperti yang dilakukan oleh nabi Luth kepada umatnya, yakni dengan mendidik diri, mendekatkan diri kepada Allah dengan tauhid dan makrifat yang benar, menahan diri dari kemewahan, berperilaku benar sebagaimana yang telah diajarkan oleh Alah SWT, dan jangan sampai perilaku kita mengundang datangnya fitnah yang berakibat menimpa kepada orang lain.

Dalam hubungannya dengan fitnah, Rasulullah saw ketika beliau menaiki suatu bukit, kemudian beliau bersabda: Apakah kalian melihat apa yang aku lihat? Sesungguhnya aku melihat tempat-tempat terjadinya fitnah di antara rumah-rumahmu bagaikan tempat turunnya air hujan”. Salah satu ciri munculnya fitnah di akhir zaman adalah kecabulan dan perzinahan merajarela dan dilakukan dengan terang-terangan. Dalam hadits rasulullah saw mengingatkan kepada kita, ketika kita menghadapi fitnah hadapilah fitnah dengan keimanan kepada Allah. Kemudian Rasulullah menyebutkan dalam hadits lain “Barang siapa yang hidup di zaman itu, zaman yang penuh fitnah, maka hendaklah engkau berlindung kepada Allah dari kejahatan, peganglah apa yang kalian anggap benar dan tinggalkanlah apa yang kalian anggap ingkar”. Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah. Dan barangsiapa yang mendapat ujian lalu bersabar, maka alangkah bagusnya”. Marilah kita waspada, bahwa sesungguhnya ledakan AIDS begitu hebat, karena itu dengan munculnya fitnah AIDS di hadapan kita, maka seyogyanya kita lakukan gerakan pemberdayaan melalui pemberian informasi yang terus menerus pada masyarakat. Kemudian tentu saja kitapun perlu melakukan gerakan bina sosial yakni dukungan sosial serta melakukan perubahan perilaku.

Oleh, Drs. H. Udin Supriadi, M.Pd.