Feb 19

Pengalaman Ruhaniah Melalui Panggilan Shalat Jum’at

Di masjid, kita akan merasakan suasana yang berbeda dengan di luar masjid. Kita akan menemukan kembali jati diri kita sebagai Mu’min. Sebelum shalat, kita amati sesama ikhwatu iman yang beragam dalam mendekatkan diri kepada Allah. Ada yang khusyu membaca dan mengkaji al-Quran, ada pula yang tekun dzikir kepada Allah, menghisab diri sebelum dihisab Allah SWT.

Setiap Jum’at kita dipanggil untuk shalat Jum’at. Dan setiap Jum’at itu pula kita menjawab ajakan itu dengan bergegas datang ke masjid, duduk bersimpuh bersama sesama ikhwatu iman. Terpaut kalbu kita untuk memadu kasih dengan sesama Mu’min. Di saat seperti itu, ada perasaan yang tumbuh dalam diri kita masing-masing bahwa sekali waktu kita akan bersama-sama menghadap Allah SWT. Dalam keadaan seperti sekarang ini kalbu kita terasa tenang, lahir rasa kebersamaan, dan sirnalah rasa kesumat dan dengki. Ada perasaan empati yang secara berangsur lahir dari nuansa shalat berjamaah Jum’at itu.
Allah SWT. Melukiskannya dalam firman-Nya:

“(yaitu) orang-orang yang bergegas menyambut panggilan Rabb-nya dan mereka mendirikan shalat, dan segala persoalan mereka dimusyawarahkan di antara mereka, dan dari rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka, mereka infakkan.” (Q.S. 42 asy-Syura: 38)

Kalaulah sekali saja kita tidak memenuhi panggilan shalat berjamaah Jum’at, kita akan merasa kehilangan. Ada yang tidak lengkap pada diri kita, karena shalat Jum’at telah menjadi kebutuhan kita.

Kalbu kita kaum Mu’minin disentuh agar peka terhadap seruan adzan. Sentuhan tersebut hendaknya mewarnai sikap hidup kita selaku manusia beriman, agar kita selalu peka apabila dipanggil muadzin. Tinggalkan sebentar pekerjaan yang mengasyikan itu, dengan harapan memperoleh ridla Allah SWT. Apabila telah selesai kita tunaikan ajakan tersebut, kembalilah kepada pekerjaan semula, mengukir dunia, menata kehidupan, berdagang dan berbisnis, mengadakan transaksi, kontrak jual beli, bermusyawarah dan berseminar, dalam upaya meniti keseimbangan hidup bahagia di dunia dan akhirat.

Tanpa ungkapan kata, bersentuhan tangan saat bersalaman, dan duduk bersimpuh di masjid, mengucapkan tasbih, tahmid, takbir dan istigfar, serta mengadukan segala persoalan hidup kepada Allah SWT. akan memberikan impressi dan kesan yang sangat mendalam. Karena itu setiap akan berangkat ke masjid, hendaknya kita membersihkan diri lebih dahulu dari niat-niat yang semu. Selama kita duduk berjamaah di masjid, kita upayakan untuk selalu mempertemukan kalbu dengan kalbu, sehingga lahir rasa ukhuwwah Islamiyyah yang berakar pada keikhlasan dan ketulusan berjamaah. Tidak terbersit dalam kalbu kita untuk saling menyakiti dan melukai sesama ikhwatu iman. Tidak terbersit dalam kalbu kita untuk selalu menyalahkan orang lain. Kita belajar memahami apa yang dilakukan orang lain, dan kita belajar pula untuk selalu menahan diri agar orang lain tidak terjegal oleh perilaku kita yang kurang etis. Yang benar menurut satu kaidah, belum tentu benar menurut etika.

Kita tetap dihimbau untuk selalu tawa shau bilhaqqi, watawa shau bishshabri dalam arti saling menasihati kebenaran dengan jalan benar dan jangan menyakiti orang lain. Yang benar tetap benar, dan yang mutlak kebenarannya, hanyalah Allah SWT.

Dalam kesempatan seperti ini, marilah kita saling memaafkan di antara kita, agar sepulangnya dari shalat Jum’at ini kita tidak membawa beban untuk dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. di yaumil hisab. Terpatrinya rasa seiman, akan menumbuhkan rasa sepenanggungan, sikap empati, proaktif dan kal jasadil wahid.

Dalam memperkaya kehidupan ruhaniah kita, mari kita tafakur sejenak, menghitung-hitung untung rugi upaya kita berkiprah menata bumi selama seminggu ini. Telah berapa lama kita menghuni bumi yang subur ini? Apa yang pernah kita perbuat untuk menciptakan kenyamanan bersama sesama ikhwatu iman, serta memakmurkan pembangunan bangsa? Semoga kita tidak termasuk kepada golongan manusia yang disindir oleh bumi tempat kita berpijak, yang dengan sinisnya merintih. Rintihan itu dilukiskan oleh Anas bin Malik sebagai berikut:

  1. Wahai manusia. Seharian engkau mencari nafkah di atas punggung ku. Sedangkan tempat kembalimu, adalah perutku.
  2. Engkau maksiat di atas punggungku, sedang dalam perutku, engkau tersiksa.
  3. Engkau tertawa ria di atas punggungku, sedang dalam perutku engkau menangis terisak-isak.
  4. Engkau bersuka ria di atas punggungku, sedang dalam perutku engkau bersedih hati.
  5. Di atas punggungku engkau menimbun harta, sedang dalam perutku, engkau menyesal.
  6. Engkau makan barang haram di atas punggungku, sedang dalam perutku, engkau luluh dimakan ulat dan cacing.
  7. Engkau pongah di atas punggungku, namun menjadi hina dina dalam perutku.
  8. Engkau berlenggang di atas punggungku, namun bersedih hati dalam perutku.
  9. Di atas punggungku, engkau berpesta pora di bawah sinar matahari, bulan dan sinar binarnya cahaya lampu, sedang di dalam perutku engkau ditelan kegelapan yang mencekam.
  10. Di atas punggungku, engkau berhimpun dengan sesama insan, namun dalam perutku engkau sepi menyendiri.

Mari kita renungkan rintihan bumi yang seharian kita injak ini. Semoga lahir kesadaran yang tinggi dalam diri kita masing-masing, agar kita tidak menyesal di saat dipanggil untuk kembali menghadap Allah SWT.

Semoga Allah mengampuni dosa dan kekhilafan kita semua. Dan semoga Allah menerima amal ibadah kita selama ini, dengan penuh harapan agar Allah selalu memperlihatkan kepada kita yang benar itu tetap benar, dan kita diberi kemampuan untuk menunaikannya, dan yang salah itu tetap salah. Serta kita diberi kemampuan untuk menjauhinya.

Ya Allah, ampunilah kecongkakan kami. Hapuslah segala dosa kami. Amin ya Rabbal ‘Alamin

Oleh, Prof. Dr. H. A. Juntika Nurihsan, M.Pd.