Aug 14

Raka’at Shalat Witir

Pertanyaan :
Assalamu’alaikum wr. wb, Ustadz
Saya mau bertanya tentang shalat witir. Shalat witir itu kan ganjil, kebanyakan orang melakukan shalat witir 3 rakaat…
Yang saya ingin tanyakan, yang 3 rakaat itu langsung 3 rakaat atau 2 rakaat kemudian dilanjut 1 rakaat (2-1)?

Jawaban :

Shalat witir sebaiknya harus langsung 3 rakaat, sebab namanya witir itu ganjil. Kurang tepat shalat witir 2 rakaat kemudian dilanjut 1 rakaat, berarti itu tidak ganjil. Bagusnya shalat witir itu disatukan 3 rakaat.

Wallahu ‘alam  bish shawab

Bersama Ust. H. Mad Ali

4 comments

Skip to comment form

    • Hamba Allah on July 25, 2012 at 7:58 am
    • Reply

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Saya tidak sependapat dengan jawaban ustadz diatas. Jawaban ustadz tentang kekurang tepatan witir bilangan 3 roka’at yang dilakukan dengan 2x salam adalah sungguh tidak berdasar, bahkan menyalahi dominasi pendapat jumhur ‘ulama salaf. Mengenai tekhnis pelaksanaan witir itu sendiri jika kita buka H.R. Bukhari No. 911 dan HR. Muslim No. 749 disana juga akan kita temukan bahwasanya kesempurnaan kayfiyyat shalat sunnah malam hari adalah 2 rokaat 2 rakaat, adapun pada pelaksanaan witir didahului 2 rakaat kemudian ditambah dengan 1 rakaat lain. Hadits lainnya yang secara eksplisit menjelaskan tentang kayfiyyat shalat sunat witir dengan 2x salam adalah sebagaimana penjelasan Imam Ibnu Hajar dalam kitabnya Al-Fath jilid II hal. 42 tentang kuatnya Isnad hadits riwayat Ibnu Hibban (2435). Adapun tekhnis pelaksanaan shalat witir 3 roka’at dengan 1x salam, sandarannya adalah hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah RA. HR. An-Nasai 3/234, Al-Baihaqi 3/31, dan mengenai hal ini Imam Nawawi berkata dalam Majmu’4/7, bahwa hadits Nasai adalah hasan sedangkan Baihaqi Isnadnya shahih.
    Mohon kiranya jawaban saya ini diluruskan jika memang ada kekeliruan.

    Demikian Terimakasih.
    Wallahu A’lam.

    • abdul on August 5, 2012 at 10:00 am
    • Reply

    Shalat Witir tiga raka’at boleh dilakukan dengan dua cara :a.
    Shalat tiga raka’at, dilaksanakan dengan dua raka’at salam, kemudian ditambah satu rakaat salam. Ini didasarkan hadits Ibnu ‘Umar radhiyallâhu’anhu, beliau berkata:

    “Dahulu, Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam
    memisah antara yang ganjil dan genap dengan salam,
    dan beliau perdengarkan kepada kami.
    (HR Ahmad )

    Juga didasarkan pada perbuatan Ibnu ‘Umar sendiri :

    “Dahulu, ‘Abdullah bin ‘Umar mengucapkan salam antara satu raka’at dan dua raka’at dalam witir, hingga memerintahkan orang mengambilkan kebutuhannya.'”
    (HR al-Bukhâri)

    b.
    Shalat tiga raka’at secara bersambung dan tidak duduk tahiyyat, kecuali di akhir raka’at saja.

    Hal ini didasarkan pada hadits Abu Hurairah radhiyallâhu’anhu yang berbunyi:

    “Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
    ‘Janganlah berwitir dengan tiga rakaat menyerupai shalat Maghrib,
    namun berwitirlah dengan lima raka’at, tujuh, sembilan
    atau sebelas raka’at’”.
    (HR al-Hâkim )

    Demikian ini juga diamalkan Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam, sebagaimana dikisahkan oleh Ubai bin Ka’ab, ia berkata:

    “Dahulu, Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam
    membaca dari shalat witirnya surat al-A’lâ
    dan pada raka’at kedua membaca surat al-Kâfirûn,
    dan rakaat ketiga membaca Qul Huwallahu Ahad.
    Beliau tidak salam, kecuali di akhirnya.”

    • Hamba Allah on September 27, 2012 at 9:49 am
    • Reply

    saya setuju dengan pendapat mas abdul, jawaban ini kiranya lebih bijak dibanding menjustifikasi sesuatu tepat atau tidaknya, padahal ada sumbernya yang jelas.

    • jcool on July 18, 2013 at 5:48 pm
    • Reply

    saya sebagai masyarakt awam…saya rasa mas abdul cukup betul lagian jawaban lebih bijak

Leave a Reply

Your email address will not be published.