Mar 07

Tiga Model Kehidupan

Di dalam Al Quran dijelaskan berbagai model kehidupan. Model kehidupan yang mewakili berbagai tipe jenis masyarakat. Karena demikian dominannya cerita di dalam Al Qur’an, maka para ulama menjadikan cerita atau kisah sebagai salah satu isi pokok Al Quran. Kisah itu biasanya dimulai dengan kejadian yang menimpa seseorang, kelompok atau suatu kaum. Kejadian yang menyengsarakan diakibatkan oleh beberapa hal, diantaranya keingkaran mereka dan pelanggaran mereka terhadap hukum Allah.

Kisah-kisah tadi terus menerus diulang oleh Allah, tetapi dengan gaya penceritaan yang berbeda-beda sehingga tidak membosankan. Teknik penceritaan lain yang menarik adalah bahwa Tuhan tidak memberikan kesimpulan di akhir cerita itu, kesimpulan diserahkan kepada kita yang membaca Al Quran atau menyimak Al Quran. Maka saya ingin mengungkapkan tiga model kehidupan yang ditampilkan Al Quran secara singkat.

Yang pertama, model kehidupan yang ditampilkan oleh kaum Saba’. Saba adalah nama raja dan kemudian adalah nama kaum yang hidup sekitar lima ratus tahun sebelum Masehi di Yaman Selatan. Semula kaum itu taat kepada Allah. Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.” (Q.S. Saba’: 15)

Itulah ayat ke-15 dari surat ke-34 tentang kaum Saba’. Keseluruhannya ada 29 ayat yang menceritakan kaum Saba’ itu sendiri. Mereka hidup memiliki pertanian yang sangat memadai, yang sangat bagus, karena ditunjang oleh irigasi yang hebat pada saat itu, sehingga hidup dalam keadaan berkecukupan. Sisi keamanan pun demikian, mereka bisa bepergian siang dan malam tanpa merasa terganggu oleh keamanan. Kemudian mereka ingkar terhadap perintah Allah SWT, maka Allah mengirimkan banjir yang disebut banjir Arim. Banjir itu meluluh lantahkan negeri tadi sehingga kebun yang semula subur makmur tinggal semak belukar dan ditumbuhi buah-buahan yang tidak layak untuk disantap.

Kita ternyata melihat bahwa model yang diceritakan dalam Al Qur’an, dapat kita asosiasikan dengan kehidupan nyata kita. Bukankah banjir itu terjadi pula dibeberapa daerah di Indonesia atau di luar Indonesia? Kita melihat model-model yang diciptakan Tuhan tadi, sudah menghabiskan milyaran bahkan triliunan rupiah. Model yang diciptakan tuhan tadi demikian mahal harganya, persoalannya apakah kita mau membiarkan model yang mahal itu tidak kita renungkan dan kita tidak mengambil kesimpulan dari sana?

Model yang kedua adalah yang ditampilkan oleh sebuah keluarga, di dalam surat Al Qalam. Ada sebuah keluarga, mereka beroleh warisan sebidang tanah, ketika tanah itu dikelola oleh orang tua dan nenek moyangnya, mereka masih biasa mengeluarkan zakat, ada bagian orang miskin disana. Ternyata setelah berpindah tangan kepada keturunannya, mereka bahkan bersumpah tidak boleh seorang pun masuk ke kebunnya, artinya mereka tidak mengeluarkan zakatnya. Maka kebun merekapun menjadi hancur diserang dan terbakar api saat mereka terlelap tidur. Kejadian tadi dapat kita asosiasikan juga dengan petani yang esok hari mau memanen padinya, namun semalam padi itu habis dimakan tikus. Boleh jadi ada seorang petani tambak, besok akan memanen udangnya tetapi ternyata udang itu diserang hama dan yang tersisa hanya air saja keesokan harinya. Atau mungkin ada orang yang tinggal menghitung laba saja, namun semalam harta kekayaannya diambil maling. Dua, kisah yang dikemukakan di dalam surat Al Qalam dan kejadian yang terjadi pada kenyataan ini patut kita renungkan, patut kita hubungkan untuk menarik kesimpulan bahwa kikir itu sungguh sangat memadarat akibatnya.

Muhammad bin al Mukabir pernah berkata seperti ini “Jika Allah hendak merusak suatu kaum atau menyengsarakan suatu kaum, maka Dia menjadikan para pemimpinnya itu dari orang-orang yang jahat”. Kemudian rizki kaum itu berada di tangan orang-orang yang bakhil. Dengan demikian perekonomian hanya berada pada sekelompok orang para pemilik modal.

Model kehidupan yang ketiga, ditampilkan oleh seorang individu yang disebut dengan Abu Lahab. Abu Lahab adalah tokoh masyarakat, pemuka masyarakat, pejabat yang dikenal sangat rupawan dan karena rupawannya itulah, maka disebut Lahab. Kemudian oleh Allah dikatakan “Hancur, binasalah Abu Lahab dan memang dia sudah hancur”. Persoalannya kenapa seorang pejabat, seorang tokoh masyarakat, seorang rupawan bisa hancur seperti itu? Penyebabnya satu yaitu karena dia suka membawa kayu bakar, membawa duri kemudian ditaruh di jalan menghalangi Nabi. Dalam tradisi Arab, duri, kayu bakar yang dihalangkan/yang digunakan untuk menghalangi orang itu merupakan kiasan untuk sebuah hasutan, untuk sebuah fitnah atau kebohongan yang disebarkan kepada pihak lain. Jadi dia (Abu Lahab) tukang mempropokasi, tukang memfitnah, dan menyebarkan dusta. Bukankah kita juga melihat ada tokoh masyarakat yang tempo hari terpandang, tetapi sekarang hartanya disita oleh pengadilan, gelar akademiknya dicabut, bahkan dimiskinkan menjadi tidak berharga lagi orang itu dihadapan keluarganya, masyarakat, komunitasnya bahkan dihadapan kita semua. Persoalannya apakah kita mau membiarkan model yang mahal itu, begitu berlalu saja. Mengapa kita tidak mengambil pelajaran. Demikianlah tiga model kehidupan, mudah-mudahan model tadi dapat kita renungkan kembali dan diambil hikmahnya yang akan kita gunakan untuk memperbaiki kehidupan ini pada langkah-langkah berikutnya.

 Oleh,  Prof. Dr. H. Syihabudin, M.Pd.