Peristiwa Mi’raj Nabi

Persoalan mi’raj merupakan buah dari prinsip dan pilar-pilar iman. Ia merupakan cahaya yang sinarnya berasal dari cahaya rukun iman. Allah berfirman” Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu melam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dam Maha Melihat”.

Dari perbendaharaan ayat yang mulia tersebut menutup ayat-Nya dengan ungkapan,”Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui”. Hal itu setelah Dia menyebutkan peristiwa diperjalankannya Rasulullah SAW dari pendahuluan mi’raj, yakni dari masjidil Haram ke Masjidil Aqsha-dan puncak perjalanan beliau yang diterangkan oleh surat An-Najm.

Kata ganti dalam “ sesungguhnya Dia” bisa kembali kepada Allah SWT atau kembali kepada Rasulullah SAW. Apabila kembali kepada Rasul SAW, maka hukum retorika (balaghah)  dan kesesuaian konteksnya menunjukkan bahwa perjalanan kecil ini termasuk di anatara perjalanan umum dan mi’raj integrasi dimana beliau mendengar dan menyaksikan semua tanda kekuasaan Tuhan serta kreasi ilahi yang menak-jubkan yang dijumpai oleh penglihatan dan pendengarannya pada saat naik dalam tingkatan nama-nama Tuhan yang komprehensif sampai ke sidratul Muntaha hingga berjarak seukuran dua busur (Qaba Qausain) atau lebih dekat dari itu. Ini menunjukkan bahwa wisata parsial di atas (Isra) merupakan kunci bagi wisata komprehensif yang mencakup berbagai kreasi ilahi yang menakjubkan.

Apabila kata ganti tersebut kembali kepada Allah SWT, maka maknanya ialah “ Dia mengundang hamba-Nya untuk menghadap kepada-Nya serta berada di hadapannya untuk menyerahkan kepadanya sebuah tugas penting. Karena itu. Dia perjalankan beliau dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha yang merupakan tempat berkumpul para nabi. Setelah Dia mempertemukan Nabi Muhammad SAW dengan mereka sekaligus menampakkannya sebagai pewaris mutlak bagi prinsip agama seluruh nabi. Dia memperjalankan dalam wisata di dalam alam malaikut-Nya sampai dengan Sidratul Muntaha dan berjarak seukuran dua busur.

Demikianlah, wisata dan perjalanan tersebut, meskipun merupakan mi’raj kecil dan yang dimi’rajkan ialah seorang “hamba” (jasad dan rohani), namun hamba  tersebut membawa amanah agung yang terkait dengan seluruh alam. Bersamanya terdapat cahaya terang yang mengubah warna alam semesta. Di samping itu, padanya terdapat kunci yang bisa untuk membuka pintu kebahagiaan abadi.

Karena itulah, Allah menggambarkan diri-Nya dengan berkata “ Sesungguhnya Dia Maha mendengar dan Maha Melihat”. Hal ini untuk menerangkan bahwa pada amanah, cahaya, dan kunci tersebut terdapat sejumlah hikmah muliah yang mencakup seluruh entitas, meliputi semua makhluk, serta menjangkau alam seluruhnya.

Sang Pencipta Alam Yang Agung berkehendak memperkenalkan diri-Nya sendiri kepada makhluk lewat semua ciptaan-Nya yang menakjubkan sekaligus menanamkan kecintaan kepada-Nya lewat sejumlah nikmat-Nya yang berharga, memperkenalkan apa yang Dia inginkan dari makhluk dan apa yang Dia ridhai atas mereka lewat seorang utusan. Sebagai balasannya beliau ialah sosok yang menjelaskan berbagai maksud ilahi dan apa yang Allah ridha lewat Al-Qur’

Mi’raj Nabi merupakan manifestasi istimewa dari tingkat kewalian Muhammad SAW. Ia tampak dalam bentuk yang komprehensif mengungguli semua bentuk kewalian yang ada serta demikian tinggi berada di atas yang lainnya. Beliau mendapatkan kehormatan untuk bisa berkomunikasi langsung dan bercakap-cakap dengan Allah sebagai Tuhan semesta alam dengan kedudukan-Nya sebagai Pencipta seluruh entitas.

Muhammad SAW merupakan pemimpin seluruh wali, imam bagi orang-orang beriman, kepada para ahli surga dan diterima oleh seluruh malaikat pasti telah melakukan mi’raj yang tujuan perjalanannya ialah menuju Allah sesuai dengan kedudukan beliau yang mulia. Hal ini penuh hikmah, sangat masuk akal dan benar-benar terjadi tanpa ada keraguan sedikit pun.

Oleh: Drs. Muh. Tawil, M.S., M.Pd

Penulis adalah Mahasiswa Program Pascasarjana S3 Pendidikan IPA Universitas Pendidikan Indonesia

1 comment

    • munir on May 11, 2014 at 7:34 am
    • Reply

    Betapa indahnya islam..

Leave a Reply

Your email address will not be published.