Halalkan Pendapatan Kita

Marilah kita senantiasa bersyukur kepada Allah. Bersyukur bermakna mengucapkan terima kasih terhadap apa yang telah dikaruniakan Allah Ta’la kepada kita. Implikasi syukur kepada Allah Ta’ala adalah kita senantiasa meningkatkan kualitas dan kuantitas pengabdian kita kepada Allah Ta’ala dan secara simultan kita ucapkan terima kasih kepada sesama manusia. Alhamdulillah, sampai hari ini kita masih bekerja dan menikmati gaji, tunjangan dan honor yang kita terima. Namun adakah kita selalu mengevaluasi diri kita setiap waktu dan hari akan semua nikmat yang kita terima dan sudahkah semua nikmat tersebut sesuai dengan apa yang telah kita kerjakan?. Jangan-jangan kita hanya berdiam diri tidak bekerja, banyak ngobrol dan bermain dibanding dengan bekerja, masalah terus  bertumpuk dan lambat karena kita tidak mengerjakannya dengan sungguh-sungguh, bahkan kadangkala apa yang kita kerjakan dapat menimbulkan ketidak nyamanan, ketersinggungan kepada orang lain. Ingat tidak semua dosa kita cukup diampuni Allah Ta’ala dengan uraian air mata sambil istigfar, namun ada dosa-dosa yang terampuni dengan bekerja keras dan bersungguh-sungguh dalam bekerja. Dan karena kerja keras dengan bersungguh-sungguh tersebut kita bisa meringankan beban dan urusan orang yang memerlukannya.

Rasullullah SAWW bersabda: “Barangsiapa yang di waktu sorenya merasakan kelelahan karena bekerja, berkarya dengan tangannya sendiri, maka di sore itulah ia diampuni dosa-dosanya,” (HR Ibnu ‘Abbas). “Siapa saja yang membebaskan kesusahan dan kesulitan hidup seseorang yang beriman, Tuhan akan membebaskannya pada hari Kiamat. Siapa saja yang meringankan beban hidup orang lain, Allah akan meringankan segala urusannya di dunia dan akhirat. Tuhan senantiasa menolong hamba-Nya selama ia menolong saudaranya. (HR. Muslim). Ketika pulang dari perang, di tengah perjalanan, Rasulullah ditemui seseorang yang bernama Sa’ad al-Ansari. Sa’ad mengeluh dan memperlihatkan telapak tangannya yang pecah-pecah. Ketika Rasul bertanya : “Mengapa?”, Sa’ad menjawab: “Saya ini bekerja mencari nafkah yang halal untuk keluarga dengan cara membelah batu, kemudian batu itu saya jual. Setiap hari saya bekerja seperti itu.” Kemudian Rasul mengambil tangan Sa’ad yang kasar dan pecah-pecah itu, lalu menciumnya, sambil berkata: “Tangan seperti inilah yang kelak akan dicintai Allah.”

Kebanyakan diantara kita bekerja tidak selalu tangan kita sampai kasar dan melepuh, tangan kita tetap halus, kadang kita bekerja dengan menggunakan fikiran sampai lelah dan jenuh, kita bekerja dengan ucapan hingga suara kita terbata-bata. Semua itu adalah wujud kita dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas amalan kita untuk menuju ridha illahi dan usaha kita dalam menghalalkan apa yang kita dapat dari gaji, tunjangan dan honor yang kita terima. Semoga kita termasuk hamba yang dimaksudkan dalam sabda Rasullulah SAWW:Seutama-utamanya amal adalah memberikan rasa bahagia pada hati orang beriman, melepaskan lapar, membebaskan kesulitan atau membayarkan hutang (HR. Thabrani).

Wallah a’lam bis-Shawwab

Oleh, Dr. H. Munir, M.IT

Leave a Reply

Your email address will not be published.